Rabu, 31 Desember 2014



Aku terbangun di pagi itu dengan penuh kedamaian. Ku dengar kicau burung dan mentari menambah hangat sambutan pagi. Aku Silvia, umurku 17 tahun sekarang. Ibuku seorang single parent. Ya, ayahku sudah di panggil yang maha kuasa ketika umurku masih 4 tahun. Segera aku bangun dan menuju ke kamar mandi, setelah itu memakai baju seragam, dan keluar dari kamarku. Aku menengok ibu yang sedang menyiapkan dagangannya.

 “Nak, sarapan dulu. Tuh makanannya udah Ibu siapin di atas meja,” kata Ibu.
 “Iya, makasih ya bu,” jawabku sambil tersenyum.


Seselesainya aku sarapan, ku pakai sepatuku, kemudian pamit pada ibu.

 “Bu, Silvi pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” aku pamit pada Ibu sambil mencium tangannya.
 “Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya nak,” kata Ibu. Kalimat itu selalu Ibu ucapkan sebelum aku pergi sekolah.



Hari itu aku tidak merasakan hal yang aneh. Semua sama seperti biasanya. Namun hal yang mengejutkan terjadi ketika aku pulang sekolah. Ibuku tidak ada di rumah, tetanggaku bilang beliau di bawa ke rumah sakit. Aku tertegun menganga tidak percaya. Beribu pertanyaan muncul di pikiranku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung meluncur ke rumah sakit tempat Ibu dilarikan. Setelah lama menunggu hasil pemeriksaan, ternyata dokter memvonis Ibuku terkena penyakit kanker otak stadium tiga.

 “Ya Allah, kenapa jadi seperti ini? Sejak kapan Ibu mengidap penyakit ini?” gumamku. Tak terasa air mata mengalir di pipi, jantungku seakan berhenti berdetak.



Mulai dari hari itu aku memutuskan untuk mandiri, menyiapkan segala sesuatu dengan tanganku sendiri. Aku juga menggantikan Ibu berjualan. Suatu hari aku menanyakan satu hal kepada Ibu.

 “Bu, ada yang mau Silvi tanya nih,” kataku memulai pembicaraan.
 “Mau nanya apa, nak?” kata Ibu.
 “Silvi kan udah kelas tiga, sebentar lagi Silvi lulus dari SMA dan insya’Allah ngelanjutin ke perguruan tinggi. Kira-kira nanti Ibu mau Silvi ngelanjutin kemana?” tanyaku.
 “Kalo bisa, nanti Ibu mau kamu lanjut ke Universitas Indonesia,” jawab Ibu.
 “Ya udah, Silvi bakal usahain semaksimal mungkin untuk mengabulkan permintaan Ibu. Silvi akan usaha keras mulai dari sekarang,” ujarku dengan senyum dan nada optimis.



Mulai dari hari itu, dengan giat aku belajar dan berusaha untuk mewujudkan permintaan Ibu, serta tidak lupa aku selalu berdo’a. Di samping itu aku juga dengan sabar menggantikan Ibu berjualan setelah pulang sekolah.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa aku sudah sampai di “Penghujung Putih Abu-abu”, hari ini aku akan menerima pengumuman kelulusan. Alhamdulillah aku lulus dengan hasil yang memuaskan.

 “Ibu, Silvi lulus, hasilnya juga memuaskan. Nilai Silvi yang paling besar di sekolah,” aku berteriak sambil berlari dari depan pintu.
 “Alhamdulillah ya, Silvi. Ibu seneng dengernya,” Ibu merespon.
 Raut kegembiraan terpancar dengan sangat jelas di wajahnya, seakan-akan beliau lupa akan penyakit yang diidapnya.



Sekarang targetku tinggal 1 lagi, masuk ke Universitas Indonesia. Semua berkas dan formulir pendaftaran ke Universitas Indonesia sudah di urus dan di kirim. Aku tinggal menunggu hasil. Aku menunggu dengan harap-harap cemas.


Akhirnya hari itu datang juga. Dari pagi aku sudah bersiap untuk melihat hasil kelulusan di universitas tersebut. Selama di perjalanan ritme detak jantungku tidak karuan, rasanya jantungku hampir lepas. Aku mendekati papan pengumuman dengan perasaan tak karuan. Ku urut jariku di daftar nama peserta yang diterima, betapa terkejutnya aku ketika melihat namaku di urutan ketiga, Silvia Pratiwi.


Tak sabar aku ingin kembali ke rumah untuk memberitahukan berita ini kepada Ibu. Aura senang dari beliau sudah bisa kubayangkan.

 “Ibu, Ibu, Silvi berhasil! Silvi masuk ke Universitas yang Ibu mau, Universitas Indonesia. Silvi juga ada di urutan ketiga,” seruku dengan senyum sumringah.
 “Alhamdulillah, nak. Akhirnya permintaan Ibu yang terakhir bisa kamu penuhi. Semoga kelak kamu juga bisa jadi yang terbaik disana,” ujar Ibu dengan nada pelan.



 Binar di mata Ibu langsung nampak, beliau kelihatan bangga. Tetapi, entah mengapa aku merasakan sebuah getaran yang berbeda ketika ku tatap sorot matanya, dan ketika ku dengar kalimat itu. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

 “Oh iya, Silvi pergi jualan dulu ya bu,” kataku.
 “Ya sudah, hati-hati di jalan ya,” jawab Ibu. Pesan terakhir itu memang tak pernah lupa beliau sampaikan.



Dengan santainya aku berjalan mengelilingi komplek, menjajakan barang daganganku. Setelah daganganku habis, langsung saja aku pulang ke rumah. Tapi tiba-tiba aku menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Bagaimana tidak, saat itu rumahku ramai dan ku lihat sebuah bendera kuning dikibarkan di depan rumahku. Tanpa banyak berpikir, aku berlari ke dalam rumah. Betapa hancur hatiku ketika melihat orang yang paling ku sayang sudah terbujur kaku. Seketika tangisku pecah saat itu juga, ku peluk dan ku cium kening Ibu untuk yang terakhir kalinya. Jujur, kesedihan yang tak terbendung melandaku saat itu. Tapi di sisi lain, aku juga merasa cukup puas, karena di detik-detik terakhirnya aku bisa membuat beliau tersenyum dan bangga akanku. Inilah bentuk abdiku untukmu, IBU.. :’)


Salam Black and Blue.


Selasa, 30 Desember 2014



Sambil menggenggam seekor burung kecil dalam kepakan tangannya, seorang anak datang menghadap seorang kakek. Kakek ini amat terkenal tidak hanya di daerahnya, tetapi bahkan pula di seluruh pelosok negri. Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang yang baik dan cerdas, namun lebih dari itu ia dipandang sebagai seorang yang amat bijaksana. Setiap kali berhadapan dengan persoalan yang paling rumit sekalipun, ia pasti akan mampu keluar dengan ide-ide yang cemerlang.


Anak kecil itu berdiri di hadapan kakek tua dan secara saksama memperhatikannya. Dalam hatinya ia berpikir bahwa saat ini akan berakhirlah reputasi bapak tua itu sebagai seorang bijak, karena ia amat yakin bahwa si kakek itu tak akan mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Setelah cukup lama memperhatikan kakek itu, dan sambil mengangkat tangannya yang tergenggam, anak itu mengajukan sebuah pertanyaan;


“Kakek yang bijaksana; katakanlah kepadaku, apakah burung kecil yang ada dalam genggaman tanganku ini masih hidup atau telah mati?” Anak itu berpikir, kalau dijawab sudah mati, maka ia akan melepaskan burung yang masih hidup dalam genggaman tangannya itu terbang. Sebaliknya, bila dijawab masih hidup maka ia akan meremuk keras burung tersebut hingga mati. Dengan itu pak tua tersebut akan kehilangan nama baiknya.


Anak itu semakin tidak sabar menanti, karena kakek tua tersebut tidak segera memberikan jawabannya. Setelah agak lama berpikir, kakek tua itu berkata;


“Secara jujur harus aku katakan bahwa aku tak tahu apakah burung kecil dalam genggamanmu itu masih hidup atau telah mati. Namun aku tahu satu hal, yakni bahwa nasib burung itu berada dalam genggaman tanganmu”.


Hidupkupun bagaikan nasib burung kecil itu, karena Tuhan menghargai kebebasanku untuk menentukan arah dan nasib hidupku sendiri.



Salam Black and Blue.

Jumat, 26 Desember 2014



Alkisah, disebuah kelas sekolah dasar, bu guru memulai pelajaran dengan topik bahasan, “Setiap insan adalah spesial”. Kehadiran manusia di dunia ini begitu berarti dan penting. “Anak-anakku, kalian, setiap anak adalah penting dan spesial bagi ibu. Semua guru menyayangi dan mengajar kalian karena kalian adalah pribadi yang penting dan spesial. Hari ini ibu khusus membawa stiker bertuliskan warna merah “Aku adalah spesial”. Kalian maju satu persatu, ibu akan menempelkan stiker ini di dada sebelah kiri kalian”.


Dengan tertib anak-anak maju satu persatu untuk menerima stiker dan sebuah kecupan sayang dari bu guru mereka. Setelah selesai, bu guru melanjutkan “Ibu beri kalian masing-masing tambahan 4 stiker. Beri dan tempelkan 1 kepada orang yang kalian anggap spesial, sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih dan kemudian serahkan 3 stiker lainnya untuk diteruskan kepada orang yang dirasa spesial pula olehnya, begitu seterusnya. Mengerti kan…….”.


Sepulang sekolah, seorang murid pria mendatangi sebuah kantor, diapun memberikan stikernya kepada seorang manajer di sana. “Pak, bapak adalah orang yang spesial buat saya. Karena nasehat-nasehatpak berikan, sekarang saya telah menjadi pelajar yang lebih baik dan bertanggung jawab. Ini ada 3 stiker yang sama, bapak bisa melakukan hal yang sama, memberikannya kepada siapapun yang menurut bapak pantas menerimanya”.


Lewat beberapa hari, manajer tersebut menemui pimpinan perusahaannya yang emosional dan sulit untuk didekati. Tetapi mempunyai pengetahuan yang luas dan telah memberi banyak pelajaran hingga dia bisa menjadi seperti hari ini. Awalnya sang pemimpin terkesima, namun setelah mengetahui alasan pemberian stiker itu, dia pun menerimanya dengan haru. Sambil mengangsurkan si manajer berkata,”Ini ada 1 stiker yang tersisa. Bapak bisa melakukan yang sama kepada siapapun yang pantas menerima rasa sayang dari bapak”. Sesampai di rumah, bergegas ditemui putra tunggalnya. “Anakku, selama ini ayah tidak banyak memberi perhatian kepadamu, meluangkan waktu untuk menemanimu. Maafkan ayahmu yang sering kali marah-marah karena hal-hal sepele yang telah kamu lakukan dan ayah anggap salah. Malam ini, ayah ingin memberi stiker ini dan memberitahu kepadamu bahwa bagi ayah, selain ibumu, kamu adalah yang terpenting dalam hidup ayah. Ayah sayang kepadamu”. Setelah kaget sesaat, si anak balas memeluk ayahnya sambil menangis sesenggukan. “Ayah, sebenarnya aku telah berencana telah bunuh diri. Aku merasa hidupku tidak berarti bagi siapapun dan ayah tidak pernah menyayangiku. Terima kasih ayah”. Mereka pun berpelukan dalam syukur dan haru serta berjanji untuk saling memperbaiki diri.


Pembaca yang luar biasa, Kehidupan layaknya seperti pantulan sebuah cermin. Dia akan bereaksi yang sama seperti yang kita lakukan. Begitu pentingnya bisa menghargai dan menempatkan orang lain di tempat yang semestinya. memuji orang lain dengan tulus juga merupakan ilmu hidup yang sehat, bahkan sering kali pujian yang diberikan disaat yang tepat akan memotivasi orang yang dipuji, membuat mereka bertambah maju dan berkembang, dan hubungan diantara kitapun akan semakin harmonis, mari kita mulai dari diri kita sendiri, belajar memberi pujian, menghormati dan memperhatikan orang lain dengan tulus dengan demikian kehidupan kita pasti penuh gairah, damai dan mengembirakan.



Salam Black and Blue.

Senin, 22 Desember 2014



Seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan jejak kumis yang dicukur seadanya. Ia datang dari tempat yang jauh dan sepertinya ia tak berhenti, meski hanya untuk mandi atau membersihkan wajahnya. Rambut hitamnya tampak kusam oleh debu dan sinar matahari, dan keringat membasahi kaos biru yang membalut tubuhnya yang kurus. Matahari tak terlalu panas hari itu, meski langit tampak begitu jernih. Tak bisa ku bayangkan alasan ia hanya mengenakan baju kaos dalam perjalanan yang cukup jauh. Lelaki itu terlalu sederhana bahkan lebih menyerupai seorang gembel yang kebingungan mencari tempat berteduh dengan rasa cemas agar tak di usir oleh orang-orang yang memandangnya dengan tatapan risih bahkan tak jarang penuh benci.


Ia semakin mendekat, namun satu hal yang sangat menarik perhatianku adalah sorot matanya. Ia memancarkan keteguhan dan kesungguhan dan ketenangan yang membingungkan jika kau menatapnya. Tatapan yang dingin seolah menembus jiwamu bagai sebilah parang besar merobek daging, dan mengguncang batin yang gelap dipenuhi kesuraman. Lelaki itu, dengan kepala tegak tanpa senyuman ataupun ekspresi lainnya, kemudian duduk di sebuah kursi kayu di hadapanku.

“Aku Homer.” Katanya tanpa mengulurkan tangan seperti yang biasa dilakukan orang-orang ketika pertama kali berjumpa. “Kau menghubungiku kemarin malam. Jadi kau ingin menyibakkan misteri yang mengganggumu selama ini?”


Sepertinya ia bukan orang yang suka berbasa basi, dan gayanya berbicara tak peduli terhadap orang yang ia jumpai. Ia begitu menguasai percakapan seolah ia berbicara pada anak kecil yang di pojokan di sebuah sudut ruangan. Mungkin setiap orang akan menyangka ia berlaku tidak sopan, tapi pikiran itu akan lenyap dalam sekejap ketika ia berbicara lagi, dan hal itu sangat mempesona, bahkan pada menit pertama perjumpaan itu.

“Aku…” jawabku ragu-ragu. “Aku tak tahu apakah ini langkah yang tepat. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi bagaimana kalau kita mulai saja?”


Lelaki itu mengangguk pelan sambil menatap lurus ke mataku. Sempat kurasakan sekelebat rasa takut melintas di benakku, namun segera ku singkirkan dengan tidak memikirkannya. Bila ketakutan menguasai, aku bisa panik dan bertingkah bagai orang gila. Dan aku tak punya rencana untuk mempermalukan diri hari ini.

 “Aku telah menyiapkan kendaraan untuk kita pergi.” Kataku. “Mungkin sebaiknya kita berangkat sekarang juga.”
 “Tak perlu kemana-mana.” Katanya. “Kita bisa memulai disini.”
 “Maksudmu, di tempat ini? Tapi disini banyak orang, dan aku tak ingin mereka menyaksikan.”
 “Jangan khawatirkan hal itu.” katanya.



Ia memegang ujung jemari kananku. Dalam sekejap, ku rasakan aliran udara bertiup kencang di balik rambutku. Semakin lama, semakin keras. Seluruh tempat itu bagai berputar dan tiba-tiba saja seperti memasuki pusaran air, semuanya lenyap; gedung-gedung dan orang-orang bahkan kendaraan-kendaraan yang begitu berisik menghilang. Suasana menjadi tenang dan hening. Kami berada di sebuah tempat yang gelap, meski cahaya dari tengah meja itu tampak menerangi sekitar kami dengan redup. Wajah orang itu tampak menakutkan di bawah bayangan gelap; aku merasakan ia sedang menatapku tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu, ketika aku mulai merasa panik, dan dadaku tiba-tiba sesak seperti kehabisan udara. Aku berusaha menarik tanganku yang ia genggam, tapi tak bisa ku lepas.

“Dimana kita?” kataku memberanikan diri sambil memandang sekitar, namun mataku tak bisa menembus tabir gelap yang menyelimuti. Sejauh mata menandang hanya kegelapan dan keheningan. Lelaki itu melepaskan genggamannya, lalu bangkit. Entah apa yang akan ia lakukan. namun ia hanya berdiri di tepi meja membelakangiku. Punggungnya yang sempit dan panjang tampak lebih mengerikan dari pada ketika ia menatapku. Ah, dasar penakut, kataku pada diri sendiri.



 “Kita berada di pusat jiwamu.” Katanya singkat.
 “Bagaimana aku tahu?” kataku. “Tempat ini terasa begitu asing, bahkan aku tak pernah merasakan berada di dini.”
 “Tentu saja.”



Apa maksudnya dengan mengatakan ‘tentu saja’, pikirku. Namun aku tak ingin berdebat, percuma saja. Semua ini ku inginkan atas keinginanku sendiri. Jadi, aku tak bisa menyalahkan orang ini.



 “Apa yang akan kita lakukan disini?” kataku.
 “Mari kita berkeliling.” Katanya lalu meraih tanganku dan kami mulai berjalan.



Tempat itu tiba-tiba saja diterangi oleh sebentuk cahaya yang tak ku ketahui asalnya. Kami menyusuri sebentuk lorong yang kanan kirinya dipenuhi batu bersusun dan tampak begitu keras. Aku menyentuhnya untuk memastikan, memang batu.



Lelaki itu berjalan terus tanpa memperdulikanku, seolah ia berjalan sendirian. Di ujung lorong, aku bisa melihat seberkas cahaya terang, sepertinya itu sebuah pintu yang terbuka. Beberapa saat kemudian, kami tiba di dalamnya.




Sungguh aneh, ruangan itu panjang sekali, bagai sebuah ruangan dalam istana yang pernah ku kunjungi beberapa tahun yang lalu, dan lebarnya kurang dari sepuluh meter, begitu kira-kira. Langit-langitnya tinggi dan melengkung dan saling menyentuh di tengahnya, dan dipenuhi gambar-gambar aneh, seperti karya Michael Angelo pada langit-langit katedral Santo Petrus, yang tak ku mengerti maknanya. Aku tak melihat adanya lampu di sana, tapi ruangan itu terang, sehingga dinding batu yang berwarna merah dan cokelat tampak jelas seperti di siang hari. Aku merasa damai, dan ketenangan yang telah lama tak ku rasakan, membungkusku dengan lembut sehingga aku merasa berada di rumah sendiri.



 “Ini hatimu.” Kata lelaki itu tanpa ragu.
 “Apaku?” kataku tak percaya.
 “Hatimu.”
 “Oh,” seruku. “Indah sekali di sini. Apa artinya ini?”
 “Kau cukup bahagia dengan hidupmu.”
 “Karena itu, ruangan ini tampak indah?”
 Lelaki itu mengangguk. Namun ia tampak murung.
 “Kenapa?” tanyaku.
 “Masih ada hal lain yang harus kau saksikan.” Katanya lalu membuka pintu lain.




Kami berjalan lagi, menyusuri lorong yang menuntun kami menuju ruangan lain. Dindingnya tinggi dan gelap, seperti menghitam karena terbakar api. Aku bisa merasakan debu mengotori ujung jariku ketika menyentuhnya. Ruangan itu panjang sekali sehingga aku tak bisa melihat ujungnya, dan lebar, dengan beberapa buah jendela yang tertutup di kanan kirinya. Dan yang aneh, ruangan itu kosong seperti tak pernah digunakan selama bertahun-tahun. Di tambah lagi tirai-tirai berwarna merah yang menggantung di beberapa tempat di dinding itu menambah suasana di ruangan itu terasa angker, membuatmu muak dan aneh. Dingin sekali di situ, rasanya ingin segera keluar dan menghirup udara segar. Seolah segala sesuatu di dalam sana akan menyakitimu. Aku memegang lengan lelaki itu, aku takut, bahkan lebih dari yang pernah ku rasakan sebelumnya. Namun lelaki itu tak bergeming, ia diam saja seperti ia baru saja pulang ke rumah dari melakukan perjalanan yang jauh.



“Ini bagian hatimu yang lain.” Katanya tanpa menungguku untuk bertanya.
 “Kenapa gelap dan dingin seperti ini?” tanyaku dengan suara bergetar.
 Lelaki itu diam saja.
 “Aku tak percaya ruangan ini seperti ini; kotor, memuakan, dan aku serasa ingin muntah saja.”
 “Tapi kau tak sampai muntah, kan?” katanya.



Betul juga. Mungkin hanya perasaanku saja. Tiba-tiba, aku bisa menguasai diriku. Tak ada lagi rasa takut, atau muak dan benci. Malah timbul rasa ingin tahu sehingga aku memperhatikan sekeliling ruangan itu.



 “Apa artinya ini?” kataku, seolah mengerti ada maksud tertentu dari pemandangan aneh ini.
 “Ini di sebut ruang kebencian.” Kata lelaki itu, lalu memutar tubuhnya menghadapku. Wajahnya tampak tenang. Aku diam saja, menunggu penjelasan lain dari mulutnya.
 “Kau lihat di ujung sana?” ia menunjuk ke sebuah arah. Sebentuk lemari besar dan tinggi yang terbuat dari kayu keras berdiri begitu saja, seolah memang sudah di letakkan disana entah sejak kapan. “Kemarilah.” Katanya. Lemari itu tiba-tiba sudah berada di hadapan kami. Di sana aku dapat melihat tumpukan kertas yang tak terhitung banyaknya, satu menindih yang lain dan aku tak membayangkan berapa jumlah mereka. Sangat banyak.
 “Apa ini?” tanyaku.
 “Semua hal yang membuat perasaanmu gelisah; rasa marah, kekhawatiran dan benci. Semua ada di sini.”
 “Aku tak menyangka menyimpan sebanyak ini.”
 “Tak seorang pun pernah menyadari apa yang mereka lakukan.”
 “Menakutkan.”
 “Memang.”
 “Lalu apa yang harus ku lakukan?”
 “Aku tak tahu,” sahut lelaki itu. “Keputusan ada di tanganmu, aku hanyalah seorang perantara.”
 “Perantara apa?”
 “Seseorang dan hatinya.”
 “Bisakah aku hanya sendirian selama beberapa saat di tempat ini? Ku pikir aku harus melihat mereka.”



Lelaki itu mengangguk. Ia berjalan ke arah pintu, lalu menghilang ketika pintu tertutup dengan keras. Tiba-tiba, sebuah cahaya yang berasal dari langit-langit menerangi dinding lemari, namun hanya cukup untuk menerangi kertas-kertas itu.


Aku mengambil satu persatu. Kertas itu tampak sangat usang, berdebu, dan tulisan di atasnya hampir tak bisa di baca. Aku memperhatikan dengan mendekatkannya ke mataku. Tulisan itu seperti tulisan seorang anak kecil, di tulis menggunakan pensil, dan sedikit bernoda darah di ujungnya. Kertas itu bertanggal 13 September 1995, 18 tahun yang lalu. Di dalamnya bertuliskan:


Aku benci ayahku. Bahkan aku ingin membunuhnya, tapi aku hanya seorang anak kecil bodoh yang tak berdaya. Ayah memukulku setelah memukul ibu. Ibu menangis dan menjerit, ia memelukku sehingga aku juga menangis. Aku tak mengerti kenapa ayah melakukan hal ini. Pokoknya aku benci ayah. Aku benci, benci, benci, benci, benci…


Ah, aku bergidik, aku ingat betul kejadian itu, bahkan seperti menyaksikan lewat televisi atau semacamnya dan serasa baru terjadi kemarin. Rasa benci itu muncul lagi. Aku tak kan memaafkannya, ia membuat ibuku menderita dan aku ditelantarkan begitu saja sejak ibuku meninggal karena memar otak yang dideritanya. Sialan terkutuk, batinku. Aku membuang kertas itu, lalu mengambil yang lainnya.


Kertas itu tampak indah, dengan motif bunga-bunga si tepi atas dan bawahnya, dan aromanya wangi. Seperti parfum kesukaanku ketika aku sekolah di SMP. Aku membaca di dalamnya:


Temanku mengajakku pergi ke sebuah pesta di malam hari. Pesta ulang tahun itu begitu riuh dan liar, banyak pemuda dan pemudi yang masih ABG semuanya mulai tak terkendali. Aroma minuman yang menusuk hidungku berputar-putar di seluruh ruangan yang pengap itu. Aku ingin pulang, ketika ku lihat temanku menghilang. Aku mencarinya hingga ke pekarangan belakang. Sial, sekelompok pemuda yang lain, sepertinya para pemabuk yang kerap mengganggu gadis-gadis memergokiku. Aku bersiap pergi ketika salah seorang dari mereka menggenggam tanganku. Lalu menarikku dengan paksa, melucuti seluruh pakaianku dan…


Aku menghela nafasku sejenak. Ah, semua itu menerjang batinku. Sialan. Kertas itu ku biarkan terkulai. Aku tak ingin melanjutkan membaca lagi, sudahlah. Aku membalikkan badanku hendak pergi dari sana, tapi ada sesuatu yang menahanku. Mendadak, kekuatan merasuki dan aku memutuskan untuk membacanya sampai habis.


Aku mendapati diriku tergeletak begitu saja di tengah hutan. Pakaianku sobek dan celana panjangku koyak di bagian selangkangan. Rasanya sakit, nyeri, bahkan untuk berjalan saja susah. Tawa itu terngiang di telingaku, bahkan tubuh yang berat dan aroma alkohol masih menumbukku. Perasaanku semakin tak tertahankan, aku benar-benar membenci mereka dengan seluruh hidupku. Aku ingin mereka mati dengan cara yang paling mengerikan. AKU BENCI MEREKA DALAM NAMA TUHAN.


Ah, kisah yang menyedihkan. Tak ku sadari, ternyata, hidupku dipenuhi oleh kisah-kisah mengerikan. Ku pikir Tuhan akan menolongku dan memberi tangan-Nya, tapi ia diam saja. Ia tertawa dan seperti hanya menoleh sepintas lalu saja, lalu pergi entah kemana. Semenjak saat itu, aku membenci apapun, bahkan hidupku sendiri. Air mataku menetes hangat di wajah. Perasaanku pahit, dan mulai mengutuki hari-hari kelahiranku dan pencipta yang tak perduli padaku. Apa gunanya lagi aku hidup jika harus begini.


Aku mengambil lagi kertas-kertas itu. Disana ku saksikan ocehan, fitnah, bahkan pelecehan yang mereka perbuat padaku. Aku memang perempuan lemah tak berdaya, tapi apakah mereka sadar kalau aku juga seorang manusia? Ah, pikiran mereka seperti binatang dan hanya memikirkan perut mereka dan keinginan yang membakar jiwa mereka. Api yang sama membakar jiwaku sehingga tulang-tulangku larut dalam kebencian yang amat sangat.


Beberapa tahun kemudian, aku bekerja di sebuah rumah sakit yang mengurus orang-orang jompo sambil berusaha berdamai dengan masa lalu. Hidupku sudah terasa tenang sampai pada suatu hari, aku mengalami mimpi yang sama selama beberapa minggu dan hal itu membuatku gila. Gambaran masa lalu dan kejadian-kejadian itu kembali mengoyak hatiku. Seolah mereka telah menemukan buruan yang selama ini dicari tanpa berpikir untuk melepaskan lagi.


Aku menceritakan hal ini pada temanku, yang kemudian ia menyarankan untuk bertemu Homer, seorang yang mampu membawa kembali masa lalu melalui terapi hipnotis dan memperbaiki semuanya. Justru hal itu semakin membuatku kacau. Kebencian yang tertanam dalam jiwaku semakin menjadi-jadi. Aku bahkan jadi bingung sendiri.


Homer, lelaki itu, membuka pintu. Oh, aku masih berada di ruangan ini rupanya. Tapi lemari besar tadi telah menghilang. Ia berdiri di muka pintu, dan aku mengerti ini saatnya untuk pergi. Aku tak tahu apa yang ku pikirkan, karena segalanya ini membuatku seperti mayat hidup dan aku tak peduli lagi. Aku berjalan dengan pelan mendekati pintu, lalu ia menutupnya dengan sangat rapat. Aku masih sempat menoleh ke arah pintu besar tersebut, sesaat sebelum kami menghilang dari sana dan melalui lorong lain. Aku tak sempat memperhatikan ketika sebuah cahaya besar yang sangat terang menelan kami, dan angin kencang membawa kami kembali.


Aku membuka mata. Ternyata kami masih berada di sana, di sebuah kafe tepi jalan. Aku melirik jam tanganku. Jarum jam menunjukan pukul 2.15. Tak ku kira hanya sepuluh menit kami berada disana, sedangkan rasanya seperti selamanya.


Homer tersenyum padaku, mungkin senyuman pertama yang ia lontarkan. Dengan senyuman itu, ia tampak sangat ramah dan simpatik.


“Aku tak mengerti kenapa aku harus melihat semua hal itu.” kataku.
 Homer dengan tenang menjawab, “Kau tak bisa menghindarinya.”
 ”Kenapa?”
 “Itu bagian dari hidupmu.”
 “Bisa kah aku menghilangkannya agar mereka tak pernah lagi menggangguku?”
 “Bisa saja, tapi kau akan menjadi seseorang yang lain, dan aku ragu apakah kau akan menyukai dirimu yang baru.”
 “Kenapa begitu?”
 “Karena kau akan menjadi seseorang yang terjebak dalam ruang dan waktu yang tumpang tindih. Apakah arti kehidupan seorang manusia yang tak memiliki masa lalu dan masa depan?”
 “Aku tak mengerti.” Kataku.
 “Masa lalu, sepahit apapun itu, kau tak bisa melewatkannya atau menghapusnya dari ingatanmu. Bagaimanapun, ia akan terus membayangimu. Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah mendamaikan jiwamu.”
 “Jadi, menurutmu aku harus memaafkan semua yang terjadi, termasuk diriku sendiri?”
 “Ku rasa kau lebih tahu. Pergilah, sebelum racun itu merusak jiwamu dan lakukan sesuatu agar kedamaian tetap menjadi penerang langkahmu.”

Sabtu, 13 Desember 2014



Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada supir pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?" Si supir menjawab, "Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai" Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"


Supirnya menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan”.


Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.


Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.


Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.


Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "kaya" dalam arti yang sesungguhnya.


Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya". Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.


Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.


Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi”. Ini perwujudan rasa syukur.


Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.


Kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.


Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.


Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.


Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu”. Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu”.


Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga”.



Salam Black and Blue.

Rabu, 10 Desember 2014



Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang orang yang bijak di desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang orang desa menonton mereka bicara.



Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, "Di mana sebenarnya pusat bumi ini?"
Nasrudin menjawab, "Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara”.
"Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?" tanya orang bijak pertama tadi.
"Kalau tidak percaya," jawab Nasrudin, "Ukur saja sendiri”.



Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.



Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan.
"Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?"
Nasrudin menjawab, "Bintang bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini”.
"Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?"
Nasrudin menjawab, "Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya”.



"Itu sih bicara goblok goblokan," tanya orang bijak kedua, "Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai”.
Nasrudin pun menjawab, "Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?"



Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.


Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya,

"Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu”.
"Saya tahu jumlahnya," jawab Nasrudin, "Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara”.
"Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?" tanyanya lagi.
"Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru”.


Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut.



Salam Black and Blue.

Kamis, 04 Desember 2014



Sudah panjang. Aku harus memotongnya. Aku langsung mengambil motorku dan pergi ke tukang cukur terdekat.


Kuhentikan motorku di depan toko itu. Tokonya sederhana, menggabung dengan rumah si tukang cukur. Cat warna hijau dengan jendela besar di depan toko itu yang ditulisi dengan cat warna merah, tulisannya adalah “POTONG RAMBUT. RAPI. MURAH. DIJAMIN PUAS”.


Aku langsung mengambil kunci motor dan berjalan masuk ke dalam. Ruangannya sederhana, tembok yang di cat senada dengan luarnya, meja dan kursi yang berwarna putih tanpa pemakai, alat-alat cukur lengkap dengan sisir bermacam-macam, ada yang kecil, ada juga yang besar. Ada yang warna hitam, sampai warna oranye pun ada.


Namun di sini sepi. Tidak ada pelanggan sama sekali, mungkin hanya musik dangdut yang dinyalakan si tukang cukur.


Sesaat aku melihat-lihat, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Refleks aku langsung berbalik dan melihat sesosok pria hitam kurus berkumis dengan pakaian merah dan celana hitam. Lalu dia tersenyum kepadaku dan berkata:

“Mau potong Mas?”. Aku mengangguk dan duduk di kursi putih. Kursi si pelanggan.
“Sepi, Mas?” Tanyaku sambil melihat bayangan si tukang cukur yang sedang mencari guntingnya lewat cermin di depanku ini. Cermin.
“Iya nih, Mas. Mungkin para pelanggan sudah bisa potong rambut sendiri”. Jawabnya sambil memasangkan kain plastik ke tubuhku.
“Mungkin ya, Mas”. Kataku dan bersiap-siap untuk dipotong rambutku. Saatnya untuk say goodbye pada rambut tersayang.
“Ini rambutnya mau diapain, Mas?” Tanyanya.
“Dirapiin aja, Mas”. Jawabku singkat. Si tukang cukur memulai ritual potong rambut dengan memotong rambut samping kananku, dan melanjutkannya dengan teliti dan penuh dengan Kesenian ala tukang cukur.
“Tuhan ternyata nggak ada, Mas”. Katanya secara tiba-tiba di tengah aku yang sedang asyik melihatnya yang ahli memotong rambutku.
“Maksud Mas?” Tanyaku bingung.
“Iya, Tuhan itu tidak ada”. Katanya sambil menatap mataku melewati perantara cermin.
“Kok bisa Mas bilang kayak begitu?” Tanyaku
“Kalau Tuhan itu ada, mengapa ada rakyat yang miskin, hidup menderita di pinggir jalan, meminta-minta. Iya, kan?” Jelasnya. Aku langsung diam. Hanya diam selama ritual ini berlangsung. Melihat kembali keahlian si tukang cukur.


Setelah beberapa lama, ritual ini selesai. Si tukang cukur membersihkan rambut-rambut yang berada di bahuku dan mengambil sapu untuk membersihkan rambutku yang sudah tercukur.


Sekarang rambutku sudah rapi. Serapi pakaian yang baru di setrika. Kemudian aku mengambil uang sepuluh ribu dari kantongku dan keluar dari toko ini.

‘Tuhan itu ada’. Batinku, tidak terima dia berkata bahwa Tuhan tidak ada, aku langsung masuk kembali dan berkata kepada Si tukang cukur,


“Ternyata tukang cukur itu tidak ada”. Aku lihat dia kaget, dan matanya melotot kepadaku.
“Adalah! Buktinya baru saja anda saya cukur. Iya, kan?” Katanya dengan nada kesal. Kemudian aku mengambil tangan si tukang cukur dan membawanya keluar. Menuju ke dunia luar, tidak lagi di dalam.
“Lihatlah beberapa orang di sana, banyak yang rambutnya panjang dan kotor, itu membuktikan bahwa tukang cukur itu tidak ada. Kalau tukang cukur ada, tidak mungkin rambut mereka sepanjang meja bola tennis!”. Kataku.
“Itu salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang kepadaku, kalau saja mereka datang, pasti rambut mereka akan rapi dan bersih. Itu salah mereka, bukan salahku, dan itu juga tidak membuktikan bahwa tukang cukur itu tidak ada”.
 “Berarti itu juga membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Kalau saja orang yang hidupnya miskin, menderita, dan lainnya itu mau mendekat ke Tuhan, pasti hidup mereka akan tenang, damai, dan sejahtera. Salah mereka sendiri tidak mau mendekat kepada Tuhan”.
 


Sesudah aku menyelesaikan perkataanku, aku langsung berjalan ke arah motorku terparkirkan, menyalakannya, dan pergi. Namun, sebelum aku berangkat pulang, aku melihat si tukang cukur itu melihat ke atas, memandangi langit yang dihiasi awan putih. Namun, dia tidak sedang melihat awan dan langit semata, dia sedang mencari Tuhan.


Salam Black and Blue.

Artikel Populer

Tags

Main of Articles