Seorang
lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia
sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan
jejak kumis yang dicukur seadanya. Ia datang dari tempat yang jauh dan
sepertinya ia tak berhenti, meski hanya untuk mandi atau membersihkan wajahnya.
Rambut hitamnya tampak kusam oleh debu dan sinar matahari, dan keringat
membasahi kaos biru yang membalut tubuhnya yang kurus. Matahari tak terlalu
panas hari itu, meski langit tampak begitu jernih. Tak bisa ku bayangkan alasan
ia hanya mengenakan baju kaos dalam perjalanan yang cukup jauh. Lelaki itu
terlalu sederhana bahkan lebih menyerupai seorang gembel yang kebingungan
mencari tempat berteduh dengan rasa cemas agar tak di usir oleh orang-orang
yang memandangnya dengan tatapan risih bahkan tak jarang penuh benci.
Ia
semakin mendekat, namun satu hal yang sangat menarik perhatianku adalah sorot
matanya. Ia memancarkan keteguhan dan kesungguhan dan ketenangan yang
membingungkan jika kau menatapnya. Tatapan yang dingin seolah menembus jiwamu
bagai sebilah parang besar merobek daging, dan mengguncang batin yang gelap
dipenuhi kesuraman. Lelaki itu, dengan kepala tegak tanpa senyuman ataupun
ekspresi lainnya, kemudian duduk di sebuah kursi kayu di hadapanku.
“Aku Homer.” Katanya tanpa
mengulurkan tangan seperti yang biasa dilakukan orang-orang ketika pertama kali
berjumpa. “Kau menghubungiku kemarin malam. Jadi kau ingin menyibakkan misteri
yang mengganggumu selama ini?”
Sepertinya
ia bukan orang yang suka berbasa basi, dan gayanya berbicara tak peduli
terhadap orang yang ia jumpai. Ia begitu menguasai percakapan seolah ia
berbicara pada anak kecil yang di pojokan di sebuah sudut ruangan. Mungkin
setiap orang akan menyangka ia berlaku tidak sopan, tapi pikiran itu akan
lenyap dalam sekejap ketika ia berbicara lagi, dan hal itu sangat mempesona,
bahkan pada menit pertama perjumpaan itu.
“Aku…” jawabku ragu-ragu. “Aku
tak tahu apakah ini langkah yang tepat. Aku tak tahu bagaimana harus
mengatakannya, tapi bagaimana kalau kita mulai saja?”
Lelaki
itu mengangguk pelan sambil menatap lurus ke mataku. Sempat kurasakan sekelebat
rasa takut melintas di benakku, namun segera ku singkirkan dengan tidak
memikirkannya. Bila ketakutan menguasai, aku bisa panik dan bertingkah bagai
orang gila. Dan aku tak punya rencana untuk mempermalukan diri hari ini.
“Aku telah menyiapkan kendaraan untuk kita
pergi.” Kataku. “Mungkin sebaiknya kita berangkat sekarang juga.”
“Tak perlu kemana-mana.” Katanya. “Kita bisa
memulai disini.”
“Maksudmu, di tempat ini? Tapi disini banyak
orang, dan aku tak ingin mereka menyaksikan.”
“Jangan khawatirkan hal itu.” katanya.
Ia
memegang ujung jemari kananku. Dalam sekejap, ku rasakan aliran udara bertiup
kencang di balik rambutku. Semakin lama, semakin keras. Seluruh tempat itu
bagai berputar dan tiba-tiba saja seperti memasuki pusaran air, semuanya
lenyap; gedung-gedung dan orang-orang bahkan kendaraan-kendaraan yang begitu
berisik menghilang. Suasana menjadi tenang dan hening. Kami berada di sebuah
tempat yang gelap, meski cahaya dari tengah meja itu tampak menerangi sekitar
kami dengan redup. Wajah orang itu tampak menakutkan di bawah bayangan gelap;
aku merasakan ia sedang menatapku tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu,
ketika aku mulai merasa panik, dan dadaku tiba-tiba sesak seperti kehabisan
udara. Aku berusaha menarik tanganku yang ia genggam, tapi tak bisa ku lepas.
“Dimana kita?” kataku
memberanikan diri sambil memandang sekitar, namun mataku tak bisa menembus
tabir gelap yang menyelimuti. Sejauh mata menandang hanya kegelapan dan
keheningan. Lelaki itu melepaskan genggamannya, lalu bangkit. Entah apa yang
akan ia lakukan. namun ia hanya berdiri di tepi meja membelakangiku.
Punggungnya yang sempit dan panjang tampak lebih mengerikan dari pada ketika ia
menatapku. Ah, dasar penakut, kataku pada diri sendiri.
“Kita berada di pusat jiwamu.” Katanya
singkat.
“Bagaimana aku tahu?” kataku. “Tempat ini
terasa begitu asing, bahkan aku tak pernah merasakan berada di dini.”
“Tentu saja.”
Apa
maksudnya dengan mengatakan ‘tentu saja’, pikirku. Namun aku tak ingin
berdebat, percuma saja. Semua ini ku inginkan atas keinginanku sendiri. Jadi,
aku tak bisa menyalahkan orang ini.
“Apa yang akan kita lakukan disini?” kataku.
“Mari kita berkeliling.” Katanya lalu meraih
tanganku dan kami mulai berjalan.
Tempat
itu tiba-tiba saja diterangi oleh sebentuk cahaya yang tak ku ketahui asalnya.
Kami menyusuri sebentuk lorong yang kanan kirinya dipenuhi batu bersusun dan
tampak begitu keras. Aku menyentuhnya untuk memastikan, memang batu.
Lelaki
itu berjalan terus tanpa memperdulikanku, seolah ia berjalan sendirian. Di
ujung lorong, aku bisa melihat seberkas cahaya terang, sepertinya itu sebuah
pintu yang terbuka. Beberapa saat kemudian, kami tiba di dalamnya.
Sungguh
aneh, ruangan itu panjang sekali, bagai sebuah ruangan dalam istana yang pernah
ku kunjungi beberapa tahun yang lalu, dan lebarnya kurang dari sepuluh meter,
begitu kira-kira. Langit-langitnya tinggi dan melengkung dan saling menyentuh
di tengahnya, dan dipenuhi gambar-gambar aneh, seperti karya Michael Angelo
pada langit-langit katedral Santo Petrus, yang tak ku mengerti maknanya. Aku
tak melihat adanya lampu di sana, tapi ruangan itu terang, sehingga dinding
batu yang berwarna merah dan cokelat tampak jelas seperti di siang hari. Aku
merasa damai, dan ketenangan yang telah lama tak ku rasakan, membungkusku
dengan lembut sehingga aku merasa berada di rumah sendiri.
“Ini hatimu.” Kata lelaki itu tanpa ragu.
“Apaku?” kataku tak percaya.
“Hatimu.”
“Oh,” seruku. “Indah sekali di sini. Apa
artinya ini?”
“Kau cukup bahagia dengan hidupmu.”
“Karena itu, ruangan ini tampak indah?”
Lelaki itu mengangguk. Namun ia tampak murung.
“Kenapa?” tanyaku.
“Masih ada hal lain yang harus kau saksikan.”
Katanya lalu membuka pintu lain.
Kami
berjalan lagi, menyusuri lorong yang menuntun kami menuju ruangan lain.
Dindingnya tinggi dan gelap, seperti menghitam karena terbakar api. Aku bisa
merasakan debu mengotori ujung jariku ketika menyentuhnya. Ruangan itu panjang
sekali sehingga aku tak bisa melihat ujungnya, dan lebar, dengan beberapa buah
jendela yang tertutup di kanan kirinya. Dan yang aneh, ruangan itu kosong
seperti tak pernah digunakan selama bertahun-tahun. Di tambah lagi tirai-tirai
berwarna merah yang menggantung di beberapa tempat di dinding itu menambah suasana
di ruangan itu terasa angker, membuatmu muak dan aneh. Dingin sekali di situ,
rasanya ingin segera keluar dan menghirup udara segar. Seolah segala sesuatu di
dalam sana akan menyakitimu. Aku memegang lengan lelaki itu, aku takut, bahkan
lebih dari yang pernah ku rasakan sebelumnya. Namun lelaki itu tak bergeming,
ia diam saja seperti ia baru saja pulang ke rumah dari melakukan perjalanan
yang jauh.
“Ini bagian hatimu yang lain.”
Katanya tanpa menungguku untuk bertanya.
“Kenapa gelap dan dingin seperti ini?” tanyaku
dengan suara bergetar.
Lelaki itu diam saja.
“Aku tak percaya ruangan ini seperti ini;
kotor, memuakan, dan aku serasa ingin muntah saja.”
“Tapi kau tak sampai muntah, kan?” katanya.
Betul
juga. Mungkin hanya perasaanku saja. Tiba-tiba, aku bisa menguasai diriku. Tak
ada lagi rasa takut, atau muak dan benci. Malah timbul rasa ingin tahu sehingga
aku memperhatikan sekeliling ruangan itu.
“Apa artinya ini?” kataku, seolah mengerti ada
maksud tertentu dari pemandangan aneh ini.
“Ini di sebut ruang kebencian.” Kata lelaki
itu, lalu memutar tubuhnya menghadapku. Wajahnya tampak tenang. Aku diam saja,
menunggu penjelasan lain dari mulutnya.
“Kau lihat di ujung sana?” ia menunjuk ke
sebuah arah. Sebentuk lemari besar dan tinggi yang terbuat dari kayu keras
berdiri begitu saja, seolah memang sudah di letakkan disana entah sejak kapan.
“Kemarilah.” Katanya. Lemari itu tiba-tiba sudah berada di hadapan kami. Di
sana aku dapat melihat tumpukan kertas yang tak terhitung banyaknya, satu
menindih yang lain dan aku tak membayangkan berapa jumlah mereka. Sangat
banyak.
“Apa ini?” tanyaku.
“Semua hal yang membuat perasaanmu gelisah;
rasa marah, kekhawatiran dan benci. Semua ada di sini.”
“Aku tak menyangka menyimpan sebanyak ini.”
“Tak seorang pun pernah menyadari apa yang
mereka lakukan.”
“Menakutkan.”
“Memang.”
“Lalu apa yang harus ku lakukan?”
“Aku tak tahu,” sahut lelaki itu. “Keputusan
ada di tanganmu, aku hanyalah seorang perantara.”
“Perantara apa?”
“Seseorang dan hatinya.”
“Bisakah aku hanya sendirian selama beberapa
saat di tempat ini? Ku pikir aku harus melihat mereka.”
Lelaki
itu mengangguk. Ia berjalan ke arah pintu, lalu menghilang ketika pintu
tertutup dengan keras. Tiba-tiba, sebuah cahaya yang berasal dari langit-langit
menerangi dinding lemari, namun hanya cukup untuk menerangi kertas-kertas itu.
Aku
mengambil satu persatu. Kertas itu tampak sangat usang, berdebu, dan tulisan di
atasnya hampir tak bisa di baca. Aku memperhatikan dengan mendekatkannya ke
mataku. Tulisan itu seperti tulisan seorang anak kecil, di tulis menggunakan
pensil, dan sedikit bernoda darah di ujungnya. Kertas itu bertanggal 13
September 1995, 18 tahun yang lalu. Di dalamnya bertuliskan:
Aku
benci ayahku. Bahkan aku ingin membunuhnya, tapi aku hanya seorang anak kecil
bodoh yang tak berdaya. Ayah memukulku setelah memukul ibu. Ibu menangis dan
menjerit, ia memelukku sehingga aku juga menangis. Aku tak mengerti kenapa ayah
melakukan hal ini. Pokoknya aku benci ayah. Aku benci, benci, benci, benci,
benci…
Ah,
aku bergidik, aku ingat betul kejadian itu, bahkan seperti menyaksikan lewat
televisi atau semacamnya dan serasa baru terjadi kemarin. Rasa benci itu muncul
lagi. Aku tak kan memaafkannya, ia membuat ibuku menderita dan aku
ditelantarkan begitu saja sejak ibuku meninggal karena memar otak yang
dideritanya. Sialan terkutuk, batinku. Aku membuang kertas itu, lalu mengambil
yang lainnya.
Kertas
itu tampak indah, dengan motif bunga-bunga si tepi atas dan bawahnya, dan
aromanya wangi. Seperti parfum kesukaanku ketika aku sekolah di SMP. Aku
membaca di dalamnya:
Temanku
mengajakku pergi ke sebuah pesta di malam hari. Pesta ulang tahun itu begitu
riuh dan liar, banyak pemuda dan pemudi yang masih ABG semuanya mulai tak
terkendali. Aroma minuman yang menusuk hidungku berputar-putar di seluruh
ruangan yang pengap itu. Aku ingin pulang, ketika ku lihat temanku menghilang.
Aku mencarinya hingga ke pekarangan belakang. Sial, sekelompok pemuda yang
lain, sepertinya para pemabuk yang kerap mengganggu gadis-gadis memergokiku.
Aku bersiap pergi ketika salah seorang dari mereka menggenggam tanganku. Lalu
menarikku dengan paksa, melucuti seluruh pakaianku dan…
Aku
menghela nafasku sejenak. Ah, semua itu menerjang batinku. Sialan. Kertas itu
ku biarkan terkulai. Aku tak ingin melanjutkan membaca lagi, sudahlah. Aku
membalikkan badanku hendak pergi dari sana, tapi ada sesuatu yang menahanku.
Mendadak, kekuatan merasuki dan aku memutuskan untuk membacanya sampai habis.
Aku mendapati diriku
tergeletak begitu saja di tengah hutan. Pakaianku sobek dan celana panjangku
koyak di bagian selangkangan. Rasanya sakit, nyeri, bahkan untuk berjalan saja
susah. Tawa itu terngiang di telingaku, bahkan tubuh yang berat dan aroma
alkohol masih menumbukku. Perasaanku semakin tak tertahankan, aku benar-benar
membenci mereka dengan seluruh hidupku. Aku ingin mereka mati dengan cara yang
paling mengerikan. AKU BENCI MEREKA DALAM NAMA TUHAN.
Ah,
kisah yang menyedihkan. Tak ku sadari, ternyata, hidupku dipenuhi oleh
kisah-kisah mengerikan. Ku pikir Tuhan akan menolongku dan memberi tangan-Nya,
tapi ia diam saja. Ia tertawa dan seperti hanya menoleh sepintas lalu saja,
lalu pergi entah kemana. Semenjak saat itu, aku membenci apapun, bahkan hidupku
sendiri. Air mataku menetes hangat di wajah. Perasaanku pahit, dan mulai
mengutuki hari-hari kelahiranku dan pencipta yang tak perduli padaku. Apa
gunanya lagi aku hidup jika harus begini.
Aku
mengambil lagi kertas-kertas itu. Disana ku saksikan ocehan, fitnah, bahkan
pelecehan yang mereka perbuat padaku. Aku memang perempuan lemah tak berdaya,
tapi apakah mereka sadar kalau aku juga seorang manusia? Ah, pikiran mereka
seperti binatang dan hanya memikirkan perut mereka dan keinginan yang membakar
jiwa mereka. Api yang sama membakar jiwaku sehingga tulang-tulangku larut dalam
kebencian yang amat sangat.
Beberapa
tahun kemudian, aku bekerja di sebuah rumah sakit yang mengurus orang-orang
jompo sambil berusaha berdamai dengan masa lalu. Hidupku sudah terasa tenang
sampai pada suatu hari, aku mengalami mimpi yang sama selama beberapa minggu
dan hal itu membuatku gila. Gambaran masa lalu dan kejadian-kejadian itu
kembali mengoyak hatiku. Seolah mereka telah menemukan buruan yang selama ini
dicari tanpa berpikir untuk melepaskan lagi.
Aku
menceritakan hal ini pada temanku, yang kemudian ia menyarankan untuk bertemu
Homer, seorang yang mampu membawa kembali masa lalu melalui terapi hipnotis dan
memperbaiki semuanya. Justru hal itu semakin membuatku kacau. Kebencian yang
tertanam dalam jiwaku semakin menjadi-jadi. Aku bahkan jadi bingung sendiri.
Homer,
lelaki itu, membuka pintu. Oh, aku masih berada di ruangan ini rupanya. Tapi
lemari besar tadi telah menghilang. Ia berdiri di muka pintu, dan aku mengerti
ini saatnya untuk pergi. Aku tak tahu apa yang ku pikirkan, karena segalanya
ini membuatku seperti mayat hidup dan aku tak peduli lagi. Aku berjalan dengan
pelan mendekati pintu, lalu ia menutupnya dengan sangat rapat. Aku masih sempat
menoleh ke arah pintu besar tersebut, sesaat sebelum kami menghilang dari sana
dan melalui lorong lain. Aku tak sempat memperhatikan ketika sebuah cahaya
besar yang sangat terang menelan kami, dan angin kencang membawa kami kembali.
Aku
membuka mata. Ternyata kami masih berada di sana, di sebuah kafe tepi jalan.
Aku melirik jam tanganku. Jarum jam menunjukan pukul 2.15. Tak ku kira hanya
sepuluh menit kami berada disana, sedangkan rasanya seperti selamanya.
Homer
tersenyum padaku, mungkin senyuman pertama yang ia lontarkan. Dengan senyuman
itu, ia tampak sangat ramah dan simpatik.
“Aku tak mengerti kenapa aku
harus melihat semua hal itu.” kataku.
Homer dengan tenang menjawab, “Kau tak bisa
menghindarinya.”
”Kenapa?”
“Itu bagian dari hidupmu.”
“Bisa kah aku menghilangkannya agar mereka tak
pernah lagi menggangguku?”
“Bisa saja, tapi kau akan menjadi seseorang
yang lain, dan aku ragu apakah kau akan menyukai dirimu yang baru.”
“Kenapa begitu?”
“Karena kau akan menjadi seseorang yang
terjebak dalam ruang dan waktu yang tumpang tindih. Apakah arti kehidupan
seorang manusia yang tak memiliki masa lalu dan masa depan?”
“Aku tak mengerti.” Kataku.
“Masa lalu, sepahit apapun itu, kau tak bisa
melewatkannya atau menghapusnya dari ingatanmu. Bagaimanapun, ia akan terus
membayangimu. Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah mendamaikan jiwamu.”
“Jadi, menurutmu aku harus memaafkan semua
yang terjadi, termasuk diriku sendiri?”
“Ku rasa kau lebih tahu. Pergilah, sebelum
racun itu merusak jiwamu dan lakukan sesuatu agar kedamaian tetap menjadi
penerang langkahmu.”