Matahari
mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar
Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan
dengan suara lembutnya membangunkan Nia yang masih tertidur pulas.
“Nia… bangun sayang, sudah pagi. Nanti
terlambat loh masuk sekolahnya.”
Nia pun perlahan mambuka matanya.
“ehmmmmmmmhhh, Nia masih ngantuk ma.”
“Iya, tapi kamu harus bangun, lihat itu sudah
jam 6 loh nanti kamu telat.”
Melihat
jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6, Nia lekas bangun dari tempat
tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berseragam,
Nia menuju ke meja makan untuk sarapan. Setangkap roti dan segelas susu
menemani sarapannya hari ini.
“Nia berangkat
dulu ya ma, pa.” Nia mencium pipi papa dan mamanya.
“Hari ini aku mau berangkat naik sepeda sama
Rino.”
“Kalau begitu hati-hati ya.” sahut mama dan
papa Nia serentak.
“Oke, ma..daaaa” Nia pun bergegas pergi.
Di
luar pagar rumah Nia sudah tampak Rino menunggunya dengan sepeda birunya.
Seperti hari-hari biasanya mereka memang sering berangkat sekolah bersama naik
sepeda. Nia hidup di tengah keluarga yang kecil namun sangat bahagia dan
harmonis. Mereka termasuk keluarga yang berkecukupan. Nia anak yang cukup mandiri
di usianya yang baru menginjak 6 tahun. Ia anak yang ceria dan suka sekali
membaca cerita. Sedangkan Rino adalah tetangga sekaligus sahabat Nia sejak TK.
Mereka juga satu kelas.
Setelah
menempuh perjalanan yang memang tidak terlalu jauh. Akhirnya mereka sampai di
sekolah.
Kriiiinggggg!!!
Bel masuk pun berbunyi. Pelajaran pertama dimulai yaitu pelajaran Bahasa
Indonesia. Bu Ninik sudah sampai di pintu ruang kelas dan mulai melangkah
masuk. Serentak semua murid berdiri dan Anton sebagai ketua kelas memimpin
anak-anak yang lainnya untuk memberi salam.
“Selamat pagi, Ibu.”
“Ya, selamat pagi anak-anak” balas Bu Ninik
dengan senyuman.
“Hari ini kita akan belajar membuat karangan.
Temanya tentang cita-cita. Kalian bebas mengarang apa saja asalkan sesuai
dengan cita-cita kalian dan bagi yang karangannya paling bagus, akan dibacakan
di depan kelas minggu depan.” Bu Ninik menjelaskan.
Setelah
selembar kertas folio dibagikan, beberapa anak sudah mulai menulis karangan
mereka termasuk Nia. Namun ada juga beberapa anak yang masih asik melamun
memikirkan apa yang harus mereka tulis di selembar kertas yang cukup panjang
itu. Ternyata Rino termasuk salah satu diantara mereka.
Satu
jam pelajaran pun berlalu. “Ayo anak-anak kumpulkan karangan kalian ke depan
karena waktunya sudah habis.” Nia maju ke depan dan mengumpulkan karangannya.
Dua halaman kertas folionya penuh dengan tulisan-tulisan kecilnya.
“Wahhh,
karanganmu panjang sekali” kata Rino sambil melirik kertas yang sedang
dikumpulkan Nia.
“Iya nih.. aku keasikan nulis tadi hahah” jawab Nia sambil
tertawa.
Waktu
sudah menunjukan pukul 12. Pelajaran di sekolah pun sudah usai. “Nia,
sebenarnya aku penasaran sekali dengan apa yang kamu tulis tadi, memangnya kamu
mengarang tentang apa?” tanya Rino.
“Ehmmm.. tentang cita-citaku lah Rin.” Jawab
Nia sambil tersenyum.
“Ya aku tahu itu. Kan memang temanya tentang
cita-cita, Ni.”
“Ahhhh.. ada deh….” jawab Nia sambil tertawa
membuat Rino penasaran.
“Yahhh kan aku cuma mau tahu aja, abisnya tadi
aku aja bingung mau nulis apa jadinya cuma nulis satu halaman deh.”
Mereka
pun terdiam karena Nia tak membalas perkataan Rino.
“Aku punya ide!” teriak Nia sedikit
mengagetkan
“Ide apa, Ni? Kamu membuatku kaget saja.”
“Bagaimana kalau kita buat kapsul waktu?
seperti di film-film itu loh. Lucu kan?”
“Kapsul waktu? itu apa Ni?”
“Wah kamu tidak tahu ya? Kapsul waktu itu
semacam kotak yg bisa kita isi apa saja. Nanti setelah kita dewasanya nanti
kita bisa melihatnya lagi. Tapi kali ini kita isi kotak itu dengan kertas yang
bertuliskan cita-cita kita, Rin. Gimana pendapatmu?”
“Wahhh sepertinya menarik hahah. Oke aku
setuju” jawab Rino dengan penuh semangat.
Tak
berapa lama Nia keluar dari rumahnya membawa dua buah kotak berwarna biru.
Mereka berdua mengisi kotak itu dengan secarik kertas yang berisikan cita-cita
mereka. Dan mereka berjanji akan membuka kapsul itu saat mereka sudah berumur
20 tahun.
11
tahun berlalu, hal yang buruk menimpa Nia saat ia menginjak kelas 2 SMP.
Keluarga Nia yang semula bahagia dan harmonis kini dilanda kesedihan. Papa Nia
meninggal karena kecelakaan pesawat yang tak diduga saat ia ingin pergi
memenuhi panggilan meeting di Malaysia. Nia merasa sedih dan sangat terpuruk.
Terlebih lagi karena mamanya menjadi sering sakit-sakitan semenjak papanya
meninggal. Mungkin karena terlalu sedih. Nia pun juga begitu. Ia sangat sedih
atas kepergian papa yang sangat disayanginya. Perasaan itu menghantuinya cukup
lama. Sampai-sampai nilai Nia sempat menurun.
Namun
belakangan ini Nia sudah mulai melupakannya dan ia mulai bangkit kembali
menjadi anak yang ceria. Ia sadar, ia harus menjaga mamanya dan berusaha sebaik
mungkin untuk sukses. Untungnya mereka masih memiliki uang simpanan hasil kerja
papanya dulu. Nia mulai lebih bersemangat dalam belajar karena terutama ia
ingin membahagiakan mamanya dan juga berterimakasih kepada Om Donny, adik papa
Nia yang sudah mambantu nia dan mamanya 4 tahun belakangan ini. Mengantar
mamanya ke rumah sakit dan juga membantu dalam hal biaya.
Ia
kembali ingin mengejar cita-citanya yang muncul semasa kecilnya dulu. Menjadi
seorang penulis. Nia memang gemar menulis sejak kecil. Ia paling menyukai
pelajaran mengarang. Nia juga suka membaca novel novel sejak kelas 6 SD.
Awalnya Nia pesimis akan bisa menggapai cita-citanya itu. Waktu itu ia pun
bercerita dengan Rino yang sampai sekarang masih menjadi sahabat baiknya dan
teman satu kelasnya. Nia ingat sekali kata Rino waktu itu. “Langit itu luas dan
tak terhitung, di atas langit masih ada langit, di atasnya juga masih ada
langit. Tapi lihatlah langit pada malam hari, yang terlihat hanyalah bulan dan
bintang kecil yang bersinar. Meskipun langit itu luas, dan tak terhitung, namun
pasti ada satu bintang di antara jutaan bintang yang paling bersinar, dan kamu
pasti bisa menjadi seperti bintang itu.” Kata-kata Rino itulah yang akhirnya
bisa membangkitkan semangatnya lagi.
Rino
memang sahabat yang baik. Dengan terus belajar rajin dan akhirnya Nia lulus SMA
dan mendapat peringkat 3 nilai UN di sekolahnya. Mamanya sangat bangga dengan
prestasi Nia. Sambil terus menulis novel, Nia kuliah di salah satu universitas
swasta. Sudah ada 4 novel yang ia kirimkan dari 1 tahun lalu namun belum ada
respon dari penerbit. Suatu hari ketika Nia sedang asik menulis novel
terbarunya, handphonenya berdering.
“Apakah bisa bicara dengan Ibu Nia?” tanya
suara di telepon itu.
“Ya, saya sendiri.” jawab Nia.
“Oh iya Nia, kami dari penerbit Media Pustaka
ingin memberi tahu kalau novel-novel anda yang anda kirimkan ke redaksi kami
akan kami terbitkan semuanya dalam akhir bulan ini.”
“Ah apakah benar begitu Pak?”
“Ya, benar, tentunya kami menghubungi anda
untuk mengatur pertemuan kita mengenai tandatangan kontrak novel ini kalau
nantinya akan diperbanyak dan tentunya mengenai honor juga” jawab laki-laki di
telepon itu.
“Baiklah, tentu saja aku bisa” jawab Nia.
Setelah
menutup telepon, Nia merasa seperti mimpi. Ia tidak pernah menduga ini
sebelumnya. Nia pun mendapat honor yang begitu besar dari hasil penjualan
novelnya. Ia kini sudah menjadi penulis yang terkenal. “Nia Chandra Wijaya”
siapa yang tidak tahu namanya. Namun dibalik semua itu ia mengerti bahwa
tujuannya bukan untuk mencari ketenaran namun hanya untuk membahagiakan orang
tuanya, mama dan juga papanya.
Suatu
ketika, Nia ingat akan janjinya kepada Rino bahwa mereka akan sama-sama membuka
kapsul cita-cita itu saat mereka berumur 20 tahun. Hari itu hari ulang tahun
Rino dan ia sudah genap 20 tahun. Bahkan Rino sendiri pun lupa akan janji Nia
itu. Mereka berdua lekas ke halaman rumah Nia dan menggali tanah tepat di bawah
pohon mangga di halaman rumah Nia.
“Kau sudah siap Rin?”
“Siap dong haha tapi aku agak malu nih.”
“Malu kenapa? kamu curang tahu udah tau
cita-cita aku duluan sebelum waktunya”
“Hahahh biarin ayo buka saja” Rino malah mulai
tak sabar.
Mereka
pun membuka kapsul itu dan betapa terkejutnya Nia ketika melihat apa yang
ditulis Rino di kertas itu. “JIKA AKU BESAR NANTI AKU MAU MENJADI BADUT UNTUK
MENGHIBUR SEMUA ORANG” Nia pun tertawa terbahak-bahak. Wajah Rino memerah
pertanda malu. Beginikah cita-cita seorang anak berumur 6 tahun? Namun
sesungguhnya Rino telah menjadi badut dalam hidup Nia.
Salam Black and Blue.