Selasa, 31 Maret 2015



Pasti udah banyak yang tau kan tentang serial Ganteng-Ganteng Serigala? Ya, jadi serial ini sempet heboh (mungkin masih) dan menuai berbagai kritikan gara-gara punya konsep yang sama dengan film vampir asal luar negeri, Twilight. Emang sih, kalau diliat dari komposisi tokohnya emang sama. Ada vampir dan serigala. Konfliknya pun sama. Sama-sama ngerebutin satu cewek.


Tapi setelah diamati, ada beberapa kejanggalan nih yang terletak pada serial ini. Apa aja tuh?


1. Judulnya

Kalau diamati, judul dengan pemeran utamanya kurang sinkron. Judulnya Ganteng-Ganteng Serigala, tapi pemeran utamanya vampir (Kevin Julio), bukan serigala (Ricky Harun).


Kalau mau si vampir jadi pemeran utamanya, harusnya judulnya diganti jadi Ganteng-Ganteng Vampir. Atau kalau mau lebih syariah dan mengundang perhatian publik, judulnya jangan Ganteng-Ganteng Serigala, tapi Ganteng-Ganteng Hijabers.


2. Perannya

Masih berhubungan dengan judul. Di judulnya, katanya Ganteng-Ganteng Serigala. Tapi nyatanya, yang ganteng bukan si serigala, tapi vampir.


Tuh kan, harusnya judulnya diganti nih. Diganti jadi: Ganteng-Ganteng (Dikit) Serigala.

3. Kendaraannya

Di film Twilight, baik si vampir atau si serigala, kalau ke mana-mana lebih sering lari, dibanding naik mobil. Bahkan, Bella-nya aja di Breaking Dawn part 2 lebih sering lari sama manjat-manjat pohon.

Beuh, cewek idaman banget…


Tapi kalau di Ganteng-Ganteng Serigala, vampirnya vampir high class. Vampir modern. Ke mana-mananya bawa mobil.

Beuh, keren. Vampir zaman sekarang udah bisa nyicil mobil.

4. Setting-nya

Di film Twilight, setting-nya cukup meyakinkan. Di hutan. Jadi agak masuk akal kalau serigala banyak yang berkeliaran.


Nah, coba kita amati pada film Ganteng-Ganteng Serigala. Setting-nya di sekolahan. Di SMA. Waw, keren banget. Ternyata, tanpa kita ketahui vampir-vampir juga ikut menjalankan program pemerintah. Program wajib belajar 12 tahun.


Ada yang suka nonton Ganteng-Ganteng Serigala? Kalau nggak ada, anggota keluarganya ada yang jadi korban juga? Ayo curhat di kolom komentar! Sekalian tambahin poin nomer 5-nya apa.


Salam Black and Blue.

Sabtu, 21 Maret 2015



Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan Nia yang masih tertidur pulas.

“Nia… bangun sayang, sudah pagi. Nanti terlambat loh masuk sekolahnya.”
Nia pun perlahan mambuka matanya. “ehmmmmmmmhhh, Nia masih ngantuk ma.”
“Iya, tapi kamu harus bangun, lihat itu sudah jam 6 loh nanti kamu telat.”



Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6, Nia lekas bangun dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berseragam, Nia menuju ke meja makan untuk sarapan. Setangkap roti dan segelas susu menemani sarapannya hari ini.


“Nia berangkat dulu ya ma, pa.” Nia mencium pipi papa dan mamanya.
“Hari ini aku mau berangkat naik sepeda sama Rino.”
“Kalau begitu hati-hati ya.” sahut mama dan papa Nia serentak.
“Oke, ma..daaaa” Nia pun bergegas pergi.



Di luar pagar rumah Nia sudah tampak Rino menunggunya dengan sepeda birunya. Seperti hari-hari biasanya mereka memang sering berangkat sekolah bersama naik sepeda. Nia hidup di tengah keluarga yang kecil namun sangat bahagia dan harmonis. Mereka termasuk keluarga yang berkecukupan. Nia anak yang cukup mandiri di usianya yang baru menginjak 6 tahun. Ia anak yang ceria dan suka sekali membaca cerita. Sedangkan Rino adalah tetangga sekaligus sahabat Nia sejak TK. Mereka juga satu kelas.


Setelah menempuh perjalanan yang memang tidak terlalu jauh. Akhirnya mereka sampai di sekolah.


Kriiiinggggg!!! Bel masuk pun berbunyi. Pelajaran pertama dimulai yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Ninik sudah sampai di pintu ruang kelas dan mulai melangkah masuk. Serentak semua murid berdiri dan Anton sebagai ketua kelas memimpin anak-anak yang lainnya untuk memberi salam.

“Selamat pagi, Ibu.”

“Ya, selamat pagi anak-anak” balas Bu Ninik dengan senyuman.
“Hari ini kita akan belajar membuat karangan. Temanya tentang cita-cita. Kalian bebas mengarang apa saja asalkan sesuai dengan cita-cita kalian dan bagi yang karangannya paling bagus, akan dibacakan di depan kelas minggu depan.” Bu Ninik menjelaskan.



Setelah selembar kertas folio dibagikan, beberapa anak sudah mulai menulis karangan mereka termasuk Nia. Namun ada juga beberapa anak yang masih asik melamun memikirkan apa yang harus mereka tulis di selembar kertas yang cukup panjang itu. Ternyata Rino termasuk salah satu diantara mereka.


Satu jam pelajaran pun berlalu. “Ayo anak-anak kumpulkan karangan kalian ke depan karena waktunya sudah habis.” Nia maju ke depan dan mengumpulkan karangannya. Dua halaman kertas folionya penuh dengan tulisan-tulisan kecilnya.

“Wahhh, karanganmu panjang sekali” kata Rino sambil melirik kertas yang sedang dikumpulkan Nia.
“Iya nih.. aku keasikan nulis tadi hahah” jawab Nia sambil tertawa.



Waktu sudah menunjukan pukul 12. Pelajaran di sekolah pun sudah usai. “Nia, sebenarnya aku penasaran sekali dengan apa yang kamu tulis tadi, memangnya kamu mengarang tentang apa?” tanya Rino.

“Ehmmm.. tentang cita-citaku lah Rin.” Jawab Nia sambil tersenyum.
“Ya aku tahu itu. Kan memang temanya tentang cita-cita, Ni.”
“Ahhhh.. ada deh….” jawab Nia sambil tertawa membuat Rino penasaran.
“Yahhh kan aku cuma mau tahu aja, abisnya tadi aku aja bingung mau nulis apa jadinya cuma nulis satu halaman deh.”



Mereka pun terdiam karena Nia tak membalas perkataan Rino.

“Aku punya ide!” teriak Nia sedikit mengagetkan
“Ide apa, Ni? Kamu membuatku kaget saja.”
“Bagaimana kalau kita buat kapsul waktu? seperti di film-film itu loh. Lucu kan?”
“Kapsul waktu? itu apa Ni?”
“Wah kamu tidak tahu ya? Kapsul waktu itu semacam kotak yg bisa kita isi apa saja. Nanti setelah kita dewasanya nanti kita bisa melihatnya lagi. Tapi kali ini kita isi kotak itu dengan kertas yang bertuliskan cita-cita kita, Rin. Gimana pendapatmu?”
“Wahhh sepertinya menarik hahah. Oke aku setuju” jawab Rino dengan penuh semangat.



Tak berapa lama Nia keluar dari rumahnya membawa dua buah kotak berwarna biru. Mereka berdua mengisi kotak itu dengan secarik kertas yang berisikan cita-cita mereka. Dan mereka berjanji akan membuka kapsul itu saat mereka sudah berumur 20 tahun.



11 tahun berlalu, hal yang buruk menimpa Nia saat ia menginjak kelas 2 SMP. Keluarga Nia yang semula bahagia dan harmonis kini dilanda kesedihan. Papa Nia meninggal karena kecelakaan pesawat yang tak diduga saat ia ingin pergi memenuhi panggilan meeting di Malaysia. Nia merasa sedih dan sangat terpuruk. Terlebih lagi karena mamanya menjadi sering sakit-sakitan semenjak papanya meninggal. Mungkin karena terlalu sedih. Nia pun juga begitu. Ia sangat sedih atas kepergian papa yang sangat disayanginya. Perasaan itu menghantuinya cukup lama. Sampai-sampai nilai Nia sempat menurun.



Namun belakangan ini Nia sudah mulai melupakannya dan ia mulai bangkit kembali menjadi anak yang ceria. Ia sadar, ia harus menjaga mamanya dan berusaha sebaik mungkin untuk sukses. Untungnya mereka masih memiliki uang simpanan hasil kerja papanya dulu. Nia mulai lebih bersemangat dalam belajar karena terutama ia ingin membahagiakan mamanya dan juga berterimakasih kepada Om Donny, adik papa Nia yang sudah mambantu nia dan mamanya 4 tahun belakangan ini. Mengantar mamanya ke rumah sakit dan juga membantu dalam hal biaya.


Ia kembali ingin mengejar cita-citanya yang muncul semasa kecilnya dulu. Menjadi seorang penulis. Nia memang gemar menulis sejak kecil. Ia paling menyukai pelajaran mengarang. Nia juga suka membaca novel novel sejak kelas 6 SD. Awalnya Nia pesimis akan bisa menggapai cita-citanya itu. Waktu itu ia pun bercerita dengan Rino yang sampai sekarang masih menjadi sahabat baiknya dan teman satu kelasnya. Nia ingat sekali kata Rino waktu itu. “Langit itu luas dan tak terhitung, di atas langit masih ada langit, di atasnya juga masih ada langit. Tapi lihatlah langit pada malam hari, yang terlihat hanyalah bulan dan bintang kecil yang bersinar. Meskipun langit itu luas, dan tak terhitung, namun pasti ada satu bintang di antara jutaan bintang yang paling bersinar, dan kamu pasti bisa menjadi seperti bintang itu.” Kata-kata Rino itulah yang akhirnya bisa membangkitkan semangatnya lagi.


Rino memang sahabat yang baik. Dengan terus belajar rajin dan akhirnya Nia lulus SMA dan mendapat peringkat 3 nilai UN di sekolahnya. Mamanya sangat bangga dengan prestasi Nia. Sambil terus menulis novel, Nia kuliah di salah satu universitas swasta. Sudah ada 4 novel yang ia kirimkan dari 1 tahun lalu namun belum ada respon dari penerbit. Suatu hari ketika Nia sedang asik menulis novel terbarunya, handphonenya berdering.

“Apakah bisa bicara dengan Ibu Nia?” tanya suara di telepon itu.
“Ya, saya sendiri.” jawab Nia.
“Oh iya Nia, kami dari penerbit Media Pustaka ingin memberi tahu kalau novel-novel anda yang anda kirimkan ke redaksi kami akan kami terbitkan semuanya dalam akhir bulan ini.”
“Ah apakah benar begitu Pak?”
“Ya, benar, tentunya kami menghubungi anda untuk mengatur pertemuan kita mengenai tandatangan kontrak novel ini kalau nantinya akan diperbanyak dan tentunya mengenai honor juga” jawab laki-laki di telepon itu.
“Baiklah, tentu saja aku bisa” jawab Nia.



Setelah menutup telepon, Nia merasa seperti mimpi. Ia tidak pernah menduga ini sebelumnya. Nia pun mendapat honor yang begitu besar dari hasil penjualan novelnya. Ia kini sudah menjadi penulis yang terkenal. “Nia Chandra Wijaya” siapa yang tidak tahu namanya. Namun dibalik semua itu ia mengerti bahwa tujuannya bukan untuk mencari ketenaran namun hanya untuk membahagiakan orang tuanya, mama dan juga papanya.


Suatu ketika, Nia ingat akan janjinya kepada Rino bahwa mereka akan sama-sama membuka kapsul cita-cita itu saat mereka berumur 20 tahun. Hari itu hari ulang tahun Rino dan ia sudah genap 20 tahun. Bahkan Rino sendiri pun lupa akan janji Nia itu. Mereka berdua lekas ke halaman rumah Nia dan menggali tanah tepat di bawah pohon mangga di halaman rumah Nia.

“Kau sudah siap Rin?”
“Siap dong haha tapi aku agak malu nih.”
“Malu kenapa? kamu curang tahu udah tau cita-cita aku duluan sebelum waktunya”
“Hahahh biarin ayo buka saja” Rino malah mulai tak sabar.



Mereka pun membuka kapsul itu dan betapa terkejutnya Nia ketika melihat apa yang ditulis Rino di kertas itu. “JIKA AKU BESAR NANTI AKU MAU MENJADI BADUT UNTUK MENGHIBUR SEMUA ORANG” Nia pun tertawa terbahak-bahak. Wajah Rino memerah pertanda malu. Beginikah cita-cita seorang anak berumur 6 tahun? Namun sesungguhnya Rino telah menjadi badut dalam hidup Nia.


Salam Black and Blue.

Jumat, 13 Maret 2015



Alkisah terdapat sebuah museum yang lantainya terbuat dari batu pualam yang indah. Di tengah-tengah ruangan museum itu dipajang sebuah patung pualam pula yang sangat besar. Banyak orang datang dari seluruh dunia mengagumi keindahan patung pualam itu.


Suatu malam, lantai pualam itu berkata pada patung pualam.



Lantai Pualam: "Wahai patung pualam, hidup ini sungguh tidak adil. Benar-benar tidak adil! Mengapa orang-orang dari seluruh dunia datang kemari untuk menginjak-injak diriku tetapi mereka mengagumimu? Benar-benar tidak adil!"
  
Patung Pualam: "Oh temanku, lantai pualam yang baik. Masih ingatkah kau bahwa kita ini sesungguhnya berasal dari gunung batu yang sama?"
 Lantai Pualam: "Tentu saja, justru itulah mengapa aku semakin merasakan ketidakadilan itu. Kita berasal dari gunung batu yang sama, tetapi sekarang kita menerima perlakuan yang berbeda. Benar- benar tidak adil!"
 Patung Pualam: "Lalu apakah kau masih ingat ketika suatu hari seorang pemahat datang dan berusaha memahat dirimu, tetapi kau malah menolak dan merusakkan peralatan pahatnya?"
  
Lantai Pualam: "Ya, tentu saja aku masih ingat. Aku sangat benci pemahat itu. Bagaimana ia begitu tega menggunakan pahatnya untuk melukai diriku. Rasanya sakit sekali!"
  
Patung Pualam: "Kau benar! Pemahat itu tidak bisa mengukir dirimu sama sekali karena kau menolaknya."
Lantai Pualam: "Lalu?"
  
Patung Pualam: "Ketika ia memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaannya pada dirimu, lalu ia berusaha untuk memahat tubuhku. Saat itu aku tahu melalui hasil karyanya aku akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda. Aku tidak menolak peralatan pahatnya membentuk tubuhku. Aku berusaha untuk menahan rasa sakit yang luar biasa."
  
Lantai Pualam: "Mmmmmm?."
  
Patung Pualam: "Kawanku, ini adalah harga yang harus kita bayar pada segala sesuatu dalam hidup ini. Saat kau memutuskan untuk menyerah, kau tak boleh menyalahkan siapa-siapa atas apa yang terjadi pada dirimu sekarang."



Salam Black and Blue.


Jumat, 06 Maret 2015



Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.


Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.


Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun ia keheranan kenapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.


Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dariusiaataupun bentuk tubuh?”


Belalang itupun menjawabnya, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup dialam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.


Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang selama ini membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.



Salam Black and Blue.

Selasa, 03 Maret 2015


“Udah malem banget, cara satu-satunya kita terjun dari gedung ini. Gue rasa malem ini gak bakal banyak orang yang lalu lalang disini. Kali ini gue rasa kita bakal berhasil” Ucap Raya sambil duduk di pinggiran lantai gedung.
 “Sebelum Kita mati gue pengen tanya, Apa Cuma masalah Cinta lo bakal bener-bener selesain hidup lo?” Sambung Raya dan memberi Pertanyaan.
 “Mungkin iya, Gue gak tau gue Hidup untuk siapa, Bertahan untuk apa, jadi sekalipun gue mati, gue gak yakin kalau orang yang gue sayang bakal bersedih” Ucap Dey sambil berkaca-kaca.
 “Apa hidup lo hanya lo persembahin buat si Brengsek itu?” Tanya Raya penuh emosi.
 “Jangan panggil dia Brengsek, Dia Bara” Bela Dey dengan Tegas. “Dia jahat, dia bikin gue sakit, tapi tanpa dia hadir dalam hidup gue, mungkin gue bakal lebih sakit. Sekarang dia udah pergi ninggalin Gue, Jadi untuk apa gue Hidup? Akan sama terasa sakit”


Rino beranjak dan segera berdiri di atas gedung. Gedung 10 lantai ini adalah tempat terakhir bagi mereka. Dan setelah itu adalah KEMATIAN.

 “Kita mulai sekarang?” Ajak Raya menyuruh Dey untuk berada di sampingnya. Kurang dari 10 menit lagi Hidup mereka berdua akan benar-benar berakhir.



Dey berjalan dengan sedikit ragu, Keringatnya bercucuran. Mukanya memerah. Dia Menaiki bangunan sambil gemetar. Entah berapa ribu kaki dari bawah, yang jelas sangat tinggi.


Aba Aba mulai terdengar. 3… keringat semuanya bercucuran membasahi badan dan mukanya, badan bergetar tanpa henti dan jantung berdegub lebih kencang. 2… badan lemas seketika, tulang berulang seperti lepas dari badan. Lemas, muka memerah, nafas tak terkendali. 1…

 “Gue gak bisa, Gue takut terjun dari sini. Tinggi banget Ray” Dey Nangis. Raya melihatnya tak tega. Raya tau sakit hatinya Dey sungguh besar makanya ia memutuskan Bunuh diri. Sedangkan Raya memutuskan Bunuh diri karena terbelit Hutang dan Tunggakan Kartu Kredit. Tapi Rasa Iba ini sungguh besar, Jika Raya akan bunuh diri, kurasa Dey tak boleh melakukannya.



Mereka berdua turun dari atas gedung dimana mereka tadi akan melompat. Dey memeluk Raya sambil menangis tersedu-sedu.

 “Gue tau lo takut, Lo gak boleh lakuin apa yang bakal gue lakuin. Gue ingin tetep Lo hidup. Izinin Gue ngobatin rasa sakit hati lo. Dan dengan itu gue bakal berusaha untuk hidup juga. Gue gak mau mati ninggalin hutang-hutang ini” keputusan yang bijak.



Dengan perkataan Raya barusan, Dey mengerti. Masih banyak alasan mengapa kita harus tetap hidup, dan masih banyak juga alasan kita bertahan. Alasannya yaitu demi KEHIDUPAN. Kehidupan kita.


Salam Black and Blue.

Artikel Populer

Tags

Main of Articles