
==============================================================================

Terkadang, ada hal yang membuat jantung, otak, dan nafas gak selaras. Saat hati tergoyahkan, terguncang oleh untaian kata di masa lalu. Mereka getir. Seolah apa yang diperlihatkan oleh teman mereka, si mata, adalah sebuah tamparan manis yang seakan menusuk hati dari belakang. Tidak! Dari segala arah. Sakit.
Sudah berapa banyak orang yang seperti itu ke kamu? Atau, sudah berapa kali kamu melakukan seperti itu ke orang lain? Bertutur dan bertindak, bercanda dan tertawa, mengaduh dan mengeluh, mengampuni dan meminta maaf pada sebuah jalinan.
Mungkin
aja, semua itu tidak kamu hiraukan. Menaikkan alis matamu dan memicingkan
kelopak matamu. Apa pernah terlintas di benakmu? Sebuah harapan yang tanpa
sengaja terlalu dalam tertancap. Sebuah harapan yang diharapkan mampu mengubah
dunia yang kala itu adalah sebuah pekarangan rumah tua yang ditinggal pergi
sang penghuninya, bertahun lamanya karena insiden kebakaran menjadi sebuah
taman bunga penuh warna nan rupawan.
Indah
bukan? Sorry, mungkin itu hanya
mimpi, atau lebay. Ingin rasanya
memiliki air mata, ya hanya agar aku bisa berlari menghampirimu kemudian
memelukmu lalu berteriak, menangis dalam dekapanmu dan mendengar semua tutur
kasih dan sayang yang spesial dari merah bibirmu.
Tapi,
layakkah kamu menjadi tujuanku berlari. Mungkin saja, saat aku menghampiri dan
mendekapmu, jiwa, hati dan pikiranmu masih ada di sana, jauh di belakang sana,
tak seperti ragamu yang kini ada di pelupuk mata.
Kembali.
Aku berpikir lagi. Bisa kamu mengucapkan kata dan kalimat pelipur lara
tersebut? Bagaimana hati orang yang pernah kamu ucapkan seperti itu sekarang
setelah kamu tak lagi bersamanya? Masihkah ada bayangannya
di benakmu saat kamu berada di sana bersamanya? Apa kamu sengaja? Apa kau sengaja
buatku nyaman? Atau, apa aku cuma pelarian -oh
no, itu terlalu kasar- cuma pengalihan objekmu.
Sudah berapa lama kamu belajar? Sudah berapa banyak yang kamu ucapkan
seperti itu? Atau, sudah berapa banyak yang kamu dengar dari orang lain hingga
kamu pelajari dan mampu kamu ucapkan? Mungkin aku bodoh, bodoh karena
percaya dengan kalimat itu dari bibirmu atau bodoh karena sempat meragukan
hatimu. Entahlah. Tak begitu paham.
Aku
tidak tahu mengapa aku berpikir seperti itu. Mungkin
pengalaman di ‘zaman kuno’ itu telah mengajariku suatu hal agar
aku tak kembali terjerembab ke jurang yang sama. Terjerembab oleh mereka
yang hanya ‘numpang berlabuh’,
mencari dan menyiapkan ‘persediaan’
untuk sepanjang pelayaran tanpa rasa bersalah atas apa yang mereka
perbuat pada hati ini.
Tapi,
aku mengabaikan semua itu. Aku tidak mau tahu dan tak peduli dengan
pikiran yang seperti itu dan yang aku tahu, aku hanya sayang dan
peduli sama hatiku. Aku membiarkan hati ini terbawa olehmu, terserah kemana
asalkan bersamamu.
Membiarkan hati yang lemah ini, yang telah beberapa kali roboh dan berkeping
terbahagiakan oleh simpul senyum manis bibirmu. Aku
menganggap kamu yang sekarang, kamu yang bersama aku itu
berbeda, jauh berbeda dan jauh lebih baik dari kamu saat bersama dengan dia
yang di ‘zaman kuno’ itu. Aku menganggap apa yang kamu lantunkan, kamu ucapkan
dan kamu lakukan ke aku itu bukanlah karangan dan hiasan yang pernah kamu
berikan pada orang lain lalu kamu berikan lagi padaku.
Entah mengapa aku senang tanpa sungkan berpidato tentang hal pribadi pada
orang lain, orang yang dulu aku anggap asing. Biasanya aku hanya berpidato
tentang kulit, rambut dan ujung hidungku saja. Mungkin ini yang namanya
kepercayaan, rasa percaya pada orang yang dulu baru ku kenal.
Bersama kamu sungguh sangat nyaman. Lebih dari nyaman. Kalo ada kata yang lebih baik dan lebih pantas dari kata ‘bahagia’, aku pilih kata itu.
Pernah aku berkata dalam hati bahwa kamu orang yang pantas diperjuangkan hatinya, tidak, semuanya, sepenuhnya, seutuhnya. Namun, bagaimana kamu meyakinkan hatiku? Kamu baru saja berada di halaman awal cerita indah dalam hidup seseorang yang ‘sok’ kuat ini, sayang.
Aku tak mau kisah ‘permukaan bumi miliyaran tahun lalu’ kembali terjadi. Di mana banyak ‘lubang’ dan ‘kekosongan’ di dalamnya yang hancur oleh ‘pukulan’ meteor tanpa ampun. Dan pada saat kisah itu hampir terulang kembali, kamu menghadirkan nuansa segar di bumi. Kamu menumbuhkan ‘tunas’ kecil yang kelak tumbuh menjadi pohon besar nan rindang di bumi, hingga bumi tak lagi panas, tak lagi kosong dan berlubang karena kerindangan yang kamu punya membawa kesejukan dan kebahagiaan pada seluruh permukaan bumi. Berharap pohon tersebut dapat bertahan dan memberikan kebahagiaan itu dalam waktu lama, nggak, selamanya.
Sekali lagi aku bergumam dan bertanya, apa kamu memang pantas diperjuangkan dan dipertahankan? Ya, pasti!
Kini, saat pertama aku melihatmu ada keceriaan di hati. Kamu telah
menyakinkan aku dengan ‘mengaitkan jari
kelingking’ satu sama lain dan berjanji takkan melanggarnya apapun yang
terjadi dan menyimpan dengan aman ‘ingatan’
itu. Kamulah ‘tunas pohon rindang’
itu. Kamu membuat dunia indah dijalani, kamu meyakinkan hati kalau kamu sangat
berarti. Kita sama-sama saling memberi, saling berbagi. Apapun kondisinya, kita
tetap mengalah dan ingin terus bersama saling menyejukkan hati.
You’re
reasonable hard-fought and defensible. Keep the way you are, not like someone
else. Don’t go, always stay here. Until the end.
Salam Black and Blue.










