Kamis, 28 Juli 2016


http://www.sydneytrees.com.au/

==============================================================================




Terkadang, ada hal yang membuat jantung, otak, dan nafas gak selaras. Saat hati tergoyahkan, terguncang oleh untaian kata di masa lalu. Mereka getir. Seolah apa yang diperlihatkan oleh teman mereka, si mata, adalah sebuah tamparan manis yang seakan menusuk hati dari belakang. Tidak! Dari segala arah. Sakit.

Sudah berapa banyak orang yang seperti itu ke kamu? Atau, sudah berapa kali kamu melakukan seperti itu ke orang lain? Bertutur dan bertindak, bercanda dan tertawa, mengaduh dan mengeluh, mengampuni dan meminta maaf pada sebuah jalinan.



Mungkin aja, semua itu tidak kamu hiraukan. Menaikkan alis matamu dan memicingkan kelopak matamu. Apa pernah terlintas di benakmu? Sebuah harapan yang tanpa sengaja terlalu dalam tertancap. Sebuah harapan yang diharapkan mampu mengubah dunia yang kala itu adalah sebuah pekarangan rumah tua yang ditinggal pergi sang penghuninya, bertahun lamanya karena insiden kebakaran menjadi sebuah taman bunga penuh warna nan rupawan.


Indah bukan? Sorry, mungkin itu hanya mimpi, atau lebay. Ingin rasanya memiliki air mata, ya hanya agar aku bisa berlari menghampirimu kemudian memelukmu lalu berteriak, menangis dalam dekapanmu dan mendengar semua tutur kasih dan sayang yang spesial dari merah bibirmu.


Tapi, layakkah kamu menjadi tujuanku berlari. Mungkin saja, saat aku menghampiri dan mendekapmu, jiwa, hati dan pikiranmu masih ada di sana, jauh di belakang sana, tak seperti ragamu yang kini ada di pelupuk mata.


Kembali. Aku berpikir lagi. Bisa kamu mengucapkan kata dan kalimat pelipur lara tersebut? Bagaimana hati orang yang pernah kamu ucapkan seperti itu sekarang setelah kamu tak lagi bersamanya? Masihkah ada bayangannya di benakmu saat kamu berada di sana bersamanya? Apa kamu sengaja? Apa kau sengaja buatku nyaman? Atau, apa aku cuma pelarian -oh no, itu terlalu kasar- cuma pengalihan objekmu.

Sudah berapa lama kamu belajar? Sudah berapa banyak yang kamu ucapkan seperti itu? Atau, sudah berapa banyak yang kamu dengar dari orang lain hingga kamu pelajari dan mampu kamu ucapkan? Mungkin aku bodoh, bodoh karena percaya dengan kalimat itu dari bibirmu atau bodoh karena sempat meragukan hatimu. Entahlah. Tak begitu paham.

Aku tidak tahu mengapa aku berpikir seperti itu. Mungkin pengalaman di ‘zaman kuno’ itu telah mengajariku suatu hal agar aku tak kembali terjerembab ke jurang yang sama. Terjerembab oleh mereka yang hanya ‘numpang berlabuh’, mencari dan menyiapkan ‘persediaan’ untuk sepanjang pelayaran tanpa rasa bersalah atas apa yang mereka perbuat pada hati ini.

Tapi, aku mengabaikan semua itu. Aku tidak mau tahu dan tak peduli dengan pikiran yang seperti itu dan yang aku tahu, aku hanya sayang dan peduli sama hatiku. Aku membiarkan hati ini terbawa olehmu, terserah kemana asalkan bersamamu. Membiarkan hati yang lemah ini, yang telah beberapa kali roboh dan berkeping terbahagiakan oleh simpul senyum manis bibirmu. Aku menganggap kamu yang sekarang, kamu yang bersama aku itu berbeda, jauh berbeda dan jauh lebih baik dari kamu saat bersama dengan dia yang di ‘zaman kuno’ itu. Aku menganggap apa yang kamu lantunkan, kamu ucapkan dan kamu lakukan ke aku itu bukanlah karangan dan hiasan yang pernah kamu berikan pada orang lain lalu kamu berikan lagi padaku.



Entah mengapa aku senang tanpa sungkan berpidato tentang hal pribadi pada orang lain, orang yang dulu aku anggap asing. Biasanya aku hanya berpidato tentang kulit, rambut dan ujung hidungku saja. Mungkin ini yang namanya kepercayaan, rasa percaya pada orang yang dulu baru ku kenal.

Bersama kamu sungguh sangat nyaman. Lebih dari nyaman. Kalo ada kata yang lebih baik dan lebih pantas dari kata ‘bahagia’, aku pilih kata itu.

Pernah aku berkata dalam hati bahwa kamu orang yang pantas diperjuangkan hatinya, tidak, semuanya, sepenuhnya, seutuhnya. Namun, bagaimana kamu meyakinkan hatiku? Kamu baru saja berada di halaman awal cerita indah dalam hidup seseorang yang ‘sok’ kuat ini, sayang.




Aku tak mau kisah ‘permukaan bumi miliyaran tahun lalu’ kembali terjadi. Di mana banyak ‘lubang’ dan ‘kekosongan’ di dalamnya yang hancur oleh ‘pukulan’ meteor tanpa ampun. Dan pada saat kisah itu hampir terulang kembali, kamu menghadirkan nuansa segar di bumi. Kamu menumbuhkan ‘tunas’ kecil yang kelak tumbuh menjadi pohon besar nan rindang di bumi, hingga bumi tak lagi panas, tak lagi kosong dan berlubang karena kerindangan yang kamu punya membawa kesejukan dan kebahagiaan pada seluruh permukaan bumi. Berharap pohon tersebut dapat bertahan dan memberikan kebahagiaan itu dalam waktu lama, nggak, selamanya.

Sekali lagi aku bergumam dan bertanya, apa kamu memang pantas diperjuangkan dan dipertahankan? Ya, pasti!


Kini, saat pertama aku melihatmu ada keceriaan di hati. Kamu telah menyakinkan aku dengan ‘mengaitkan jari kelingking’ satu sama lain dan berjanji takkan melanggarnya apapun yang terjadi dan menyimpan dengan aman ‘ingatan’ itu. Kamulah ‘tunas pohon rindang’ itu. Kamu membuat dunia indah dijalani, kamu meyakinkan hati kalau kamu sangat berarti. Kita sama-sama saling memberi, saling berbagi. Apapun kondisinya, kita tetap mengalah dan ingin terus bersama saling menyejukkan hati.


You’re reasonable hard-fought and defensible. Keep the way you are, not like someone else. Don’t go, always stay here. Until the end.



Salam Black and Blue.

Minggu, 06 Desember 2015



Dalam sebuah kapal ada 4 ekor hewan yang menemani seorang nahkoda. Hewan itu ialah ayam, gajah, harimau dan tikus. Suatu hari keempat hewan itu berkumpul dan menceritakan kehebatan masing-masing.



Kata Ayam: "Aku selalu memberi telur kepada nahkoda kita. Berkat aku, dia dapat makan enak dan bergizi."
 
Gajahpun tak mau kalah "Aku kuat, aku selalu membantu nahkoda kita untuk mengangkat barang-barang berat."
 
Harimau menimbrung "Kalau aku terkenal sakti dan selalu dapat memenangkan setiap pertempuran, aku selalu melindungi nahkoda kita dari serangan bajak laut dan orang-orang jahat".



Hanya tikus yang terdiam.




Ketiga hewan lainnya memandang dia katanya: "Tikus apa fungsimu di sini, hanya engkau yang tak mempunyai fungsi di sini.hahahaha". Mereka mengejek tikus itu.


Suatu hari kapal itu terantuk pada tonjolan karang dan bocor. Keempat hewan itu dan nahkodanya panik. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan karena lokasi kebocoran berada di tempat tersembunyi sehingga tidk bisa ditemukan. Tikus berpikir sejenak kemudian berkata : "Teman-teman mungkin inilah saatnya aku dapat berguna bagi kalian." Lalu tikus itu mulai bergerak. Dengan tubuh mungil dan lonjong itu dia begitu mudah masuk ke sela-sela kayu untuk menemukan sumber kebocoran itu. Akhirnya kapal itu dapat diselamatkan.





Nahkoda itu berkata: "Untung ada kamu tikus, kalau tidak kita bisa celaka". Ketiga temannya pun tertunduk malu karena mereka telah mengejek tikus itu.



Demikianlah TUHAN memberikan kepada kita semua talenta masing masing. Tidak ada orang bodoh yang ada hanya orang yang tidak sadar akan bakat yang diberikan TUHAN kepada kita. Janganlah mengejek dan saling merendahkan tetapi hendaklah saling melengkapi untuk hidup yang lebih baik.




Salam Black and Blue.

Jumat, 04 Desember 2015



Tiga binatang adalah teman sekarib; dua ekor elang yang besar perkasa dan seekor katak mungil. Sesungguhnya seekor katak merupakan santapan lezat sang elang. Namun bukan mustahil sesuatu yang luar biasa bias terjadi. Dan itu mungkin yang disebut sebagai keajaiban. Ketika sang rajawali hinggap dipinggir sebuah kubangan, mereka menemukan seekor katak, walau kecil namun menarik dan mampu meluluh-lantakan ketamakan hati kedua elang itu. Perlahan mereka bersahabat, ada kasih, ada cinta, ada sayang yang terjalin di antara mereka.


Perlahan musimpun kini beralih. Belahan bumi bagian utara tempat di mana ketiga sekawan itu hidup kini perlahan dingin. Dan di awal musim dingin kawanan burung akan hijrah, terbang jauh ke belahan selatan yang lebih hangat. Kedua elangpun akan melakukan perjalanan yang sama, meninggalkan arus dingin yang bakal tiba dalam beberapa hari.


Sebuah perpisahan adalah saat yang sedih. Ada kesedihan bercokol dalam di dasar sanubari. Ada ratap tangis, ada air mata, ada kepedihan. Mereka tak meratapi perpisahan ini, tetapi menangisi saat pertemuan dulu. Mengapa hal itu terjadi? Mengapa mereka dulu pernah bertemu dan saling menjalin cinta? Namun menangisi masa silam sama halnya dengan kehampaan. Mereka harus melihat kenyataan saat kini.


"Seandainya engkau bisa terbang tinggi di angkasa raya..." demikian sang elang berkata-kata, "maka kita tak akan harus berpisah!" Sang katak yang kerdil kini berpikir keras mencari jalan, dan akhirnya muncul dengan sebuah gagasan gemilang. Ia membawa sebuah tongkat. Dengan paruhnya masing-masing kedua elang itu memegang kedua ujung tongkat, dan sang katak dengan mulutnya memegang erat di bagian tengah tongkat itu. Maka terjadilah... Ketiga binatang itu bersama-sama terbang riang di angkasa biru.


Semua binatang lain mengangkat wajah melihat keajaiban di atas sana. "Oh...Betapa hebatnya. Katakpun bisa terbang tinggi. Seandainya aku bisa terbang di langit biru." Demikian mereka berdecak kagum. Mendengar decakan kagum itu sang katak menjadi sangat bangga. Dalam hatinya ia tak henti-hentinya berkata pada dirinya sendiri, "Kalau bukan karena kepintaranku maka keajaiban ini tak akan pernah terjadi."


Tak lama berselang sebuah suara teriakan nyaring terdengar di telinga sang katak; "Wah...! Siapakah yang sedemikian pintarnya menemukan cara gemilang ini sehingga sang katakpun bisa terbang tinggi?"


Sang katak kini tak mampu menahan diri. Ia ingin agar semua orang tahu bahwa hal ajaib ini terjadi karena kehebatannya. Karena itu dengan sekuat tenaganya sang katak membuka mulut dan berteriak; "Ini adalah hasil pikiran sa..." Sayang...seribu sayang! Sebelum ia mampu menyelesaikan kata-katanya, ia telah terjerembab jatuh, badannya menghantam wadas keras, dan seketika itu juga menjadi seonggok sampah tak bermakna.


Seandainya sang katak tak berkoar mewartakan kebesaran dirinya sendiri, maka mereka akan bersama-sama tiba di dunia baru, dunia yang penuh kehangatan.


Salam Black and Blue.

Kamis, 19 November 2015



Seorang bapa memiliki dua orang anak. Setiap kali bila mereka memiliki waktu bebas, maka ia akan membawa kedua anaknya ke lapangan luas dan melepaskan balon-balon ke udara. Anehnya, balon-balon yang dilepaskan itu semuanya berwarna merah. Setiap kali mereka datang ke lapangan itu pasti balon merahlah yang dilepaskan.


Suatu saat sang ayah ditugaskan untuk bekerja di kota lain. Pada saat hendak meninggalkan rumah ia berpesan kepada kedua anaknya bahwa bila mereka sungguh amat merindukan kehadiran sang ayah, maka mereka hendaknya melepaskan balon merah agar ditiup angin ke langit lepas. Dan dengan melihat balon tersebut sang ayah bisa mengetahui kalau mereka sedang merindukan kehadirannya.


Ternyata kepergian sang ayah bukanlah suatu perpisahan yang singkat. Kedua anak tersebut menanti dengan penuh rindu, dan berulang kali melepaskan balon merah ke udara. Namun tetap saja tak berguna karena ayahnya yang bekerja di tempat yang jauh tak pernah mampu melihat balon yang dilepaskan tersebut.


Suatu hari, kedua anak tersebut secara sembunyi-sembunyi sekali lagi melepaskan balon merah. Para tetangga merasa begitu iba dan terharu melihat betapa besar kerinduan kedua anak tersebut untuk bertemu sang ayah. Karena itu semua tetangga lalu ramai-ramai membeli jutaan balon dan menjadikan saat itu sebagai saat istimewa bagi warga tetangga tersebut. Semua beramai-ramai menuju lapangan luas dan melepaskan jutaan balon merah ke udara. Ke mana saja mata memandang, yang kelihatan adalah warna balon merah yang menakjubkan. Keajaiban balon merah tersebut ditangkap oleh seorang reporter. Dan, tatkala melihat berita keajaiban tersebut, sang ayah tahu bahwa kedua anaknya sedang merindukan kehadirannya, dan dengan segera melepaskan kesibukannya untuk kembali memberikan kasih sayang kepada kedua anaknya tersebut. Balon merah sungguh telah menjadi sarana yang menyatukan mereka kembali.


Kitapun memiliki kerinduan akan kehadiran Cinta Tuhan dalam diri kita dan hidup kita. Apakah kitapun sering melepaskan balon merah sebagai ungkapan tanda kerinduan kita akan kehadiran Bapa di surga?



Salam Black and Blue.

Jumat, 06 November 2015



Hari ini memang bukan hari yang indah untukku. Aku harus merelakan kepergian sahabat baruku, Cheryl Putri. Hujan air mataku mengiringi kepergiannya. Aku tidak kuat untuk mendampinginya pergi ke sana. Hari ini aku hanya berdiam diri dan mengunci pintu kamarku. Aku hanya bisa menangis dan menyesali kesalahanku padanya. Seandainya saat itu aku datang ke rumahnya saat dia membutukanku, aku pasti bisa melihat saat–saat terakhir hidupnya. Tapi, aku malah lebih mementingkan kegiatan futsal di kampus daripada dirinya, aku sungguh menyesal sekarang. Baru dua bulan kami bertemu, tapi sekarang takdir sudah menyelesaikan kisah kami berdua. Kehadirannya dikisah hidupku benar–benar bisa mengubah gaya hidupku. Dia mengajarkanku bagaimana menghargai orang lain, dia mengajarkanku merasakan apa yang orang lain rasakan, dia sangat istimewa dimataku, dan kurasa aku menyukainya, bukan, tapi aku mencintainya.


Sudah lima hari setelah kepergiannya, tapi aku belum bisa menerima kepergiannya. Setiap malam aku berharap sebuah bulan menemaniku untuk menghiburku dan sejuta bintang menerangi malamku untuk menggantikan dirinya. Tapi itu hanyalah harapan yang kosong dari sebuah jiwa yang sunyi. Malam ini aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kostku. Aku ingin me¬refresh otakku dari kegelapan yang aku alami. Akupun pergi dari kostku, tanpa diketahui oleh teman-temanku. Aku menyusuri jalan yang ramai sekali tapi aku tidak merasakan keramaian disini. Sampai akhirnya tanpa aku sadari, aku sudah berada di sebuah tempat yang gelap, dan dipenuhi pohon–pohon. Ternyata aku ada di kaki gunung, Gunung Kidul. Aku sangat terkejut, gunung ini jauh sekali dari daerah kostku yang terletak di Karang Bendo, aku merasa mataku telah ditutup dan aku baru saja terbangun. Segera, setelah aku tersadar aku langsung memutar balik haluan dan langsung kembai ke kostku. Saat aku sedang menuruni jalan, aku tidak sadar kalau ada batu dijalan. Akupun menabrak batu tersebut dan aku tersungkur jatuh dari motorku. Saat itu aku tidak bisa merasakan tubuhku lagi.


Aku mendengar suara seseorang memanggil namaku, jelas sekali di telingaku. Aku langsung terbangun dan aku melihat seorang wanita cantik dihadapanku, dan dia mirip sekali dengan Cheryl, tapi dia lebih tinggi dan rambutnya lebih panjang dibandingkan Cheryl. Dia mengucapkan salam kepadaku, akupun membalas salam kepadanya. Aku melihat sekelilingku, aku masih ditempat yang sama, di kaki gunung, Gunung Kidul, hanya saja sekarang matahari sudah terbit. Lalu wanita itu mengajakku pergi dari tempat itu, aku pun mengikutinya. Tak berapa lama aku teringat akan motorku, aku coba tanya ke wanita tersebut apa dia melihat motorku, tapi dia menjawab motorku sudah dibawa temanku. Aku heran sekali dengan jawabannya, padahal aku tidak bilang kepada temanku kalau aku ingin pergi, tapi kenapa temanku yang mengambil motorku, dan kenapa temanku meninggalkanku sendiri. Saat matahari sudah naik sepenggalan aku melihat tanganku, dan sepertinya tanganku transparan, bukan benda padat lagi. Dan wanita itu seperti cahaya, bukan benda padat lagi. Aku langsung berteriak karena hal ini.


Apakah aku sudah mati? Dan kemana wanita ini akan mengajakku, ke surga ataukah neraka?


Lalu wanita itu berkata kepadaku, “Kau ada di dunia waktu, aku akan mengajakmu melihat masa lalu yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya.”



Ternyata yang dimaksudnya tidak pernah dipikirkan olehku adalah masa lalu dari keluargaku. Aku melihat ayahku saat masih kecil, ternyata ayahku hidup serba kekurangan, berbeda sekali dengan ayahku yang sekarang, yang sudah menjadi seorang pengusaha batik terkenal. Dan ternyata mamaku dulu adalah orang yang kaya, dia dipaksa orangtuanya menikah dengan pria yang kaya, tapi dia lebih menerima ayahku yang hidup kekurangan daripada memilih pria yang kaya raya tapi sombong. Aku agak sedikit ragu dengan ini, apakah ini nyata? Apakah ini asli terjadi? Lalu aku diajak wanita itu untuk mendatangi sebuah rumah bersalin, dan ternyata saat itulah aku dilahirkan di muka bumi ini. Aku merasakan hal yang indah dan menyedihkan saat aku memutar waktu, aku seperti sedang bermimpi. Setelah itu wanita tersebut mengajakku beristirahat di sebuah bangku di taman, dan memang tidak ada orang yang melihat kami berdua disana, karena kami transparan. Aku melihat seorang anak perempuan yang sedang menangis di taman, padahal teman–temannya sedang asik bermain, tapi dia malah menangis. Aku bertanya kepada wanita itu, siapakah anak perempuan itu, dan wanita itu menjawab anak perempuan itu yang akan menjelaskanku bagaimana mensyukuri hidup. Lagi–lagi wanita itu berucap kata–kata yang aneh, padahal dia hanya berkata saat aku bertanya padanya, tapi setiap dia berkata pasti selalu kata–kata yang tidak aku mengerti.


Cukup lama kami berdua beristirahat, bahkan aku sampai lupa menanyakan siapa namanya. Aku bertanya kepada wanita itu, siapa namanya. Lalu, dia menjawab namanya adalah Rachel, nama yang belum pernah aku dengar di dalam hidupku. Kemudian dia berkata kepadaku, setelah ini dia akan meninggalkanku disini, dan aku akan menemukan seseorang yang akan membuat diriku sangat takut. Dia berpesan kepadaku, pilihlah sesuai kata hatimu saat kau sedang kesulitan. Aku tidak mengerti apa yang ia maksud, tiba-tiba dia menghilang, dan seluruh taman itu berubah menjadi sebuah tempat yang gelap dan cukup menakutkan.


Tak berapa lama setelah Rachel menghilang, munculah sosok misterius yang menakutkan, dia memakai jubah hitam dan memakai topeng di wajahnya. Aku sangat ketakutan sekali, karena kulihat dia juga membawa sebuah kampak.


Aku langsung melarikan diri dari hadapan sosok tersebut, tiba – tiba aku mendengar suara Rachel. “Jangan takut, hadapi jika memang kau pria.”

Setelah mendengar ucapan dari Rachel, aku mencoba memberanikan diriku untuk menemui sosok misterius tersebut, meskipun kakiku gemetar dan keringat bercucuran dari kulitku.


“Apa yang kau mau?” tanyaku kepada sosok misterius tersebut.

Dia menjawab bahwa dia ingin membalas dendam atas apa yang aku perbuat. Dia menjelaskan padaku, bahwa aku telah membuat dia merasakan apa yang aku derita, aku juga membuat dia menangisi apa yang aku tangisi, dan aku membuat dia menghilang saat aku kehilangan diriku. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud, yang jelas dia ingin membalas semua yang aku perbuat kepadanya.


Aku sangat takut sekali saat itu, sepertinya aku akan mati sekarang, itulah yang aku pikirkan saat itu. Tidak berapa lama kemudian, aku melihat Cheryl dan adikku digantung oleh sosok misterius tersebut. Dia ingin aku memilih siapa yang harus mati, apakah Cheryl atau adikku. Aku sangat bingung, aku memaksa dia untuk membuka topengnya, kemudian dia membuka topengnya dan yang aku lihat adalah wajahku sendiri. Ternyata sosok misterius itu adalah bayangan dari diriku, dia merasa menderita menjadi diriku itu sebabnya ia ingin membalas dendam. Memang tidak masuk akal, tapi wajah itu benar–benar wajahku. Dia mulai mengangkat kampak yang dia pegang, aku sangat takut sekali, Cheryl dan adikku, mereka adalah orang yang sangat aku sayangi. Aku tidak sanggup melihat mereka mati, kemudian aku teringat akan kata–kata Rachel untuk memilih sesuai kata hatiku saat aku sedang kesulitan.


Aku memilih bayanganku yang mati, tapi dia berkata jika dia mati maka aku akan kehilangan siapa diriku, aku akan lupa segalanya, artinya secara tidak langsung Cheryl dan adikku juga akan mati. Keringat dingin mulai bercucuran dari wajahku, ketakutan yang sangat luar biasa aku rasakan, aku sudah tidak bisa berpikir lagi apa yang harus aku lakukan. Akhirnya aku memutuskan akulah yang mati, karena tanpa diriku Cheryl dan adikku masih bisa hidup, aku rela mati demi kedua orang yang aku sayang, itulah ucapanku kepada bayanganku.


Dia meyakinkanku, apakah aku yakin ingin membunuh diriku sendiri, akupun berkata “Aku yakin, dan sangat yakin sekali.”

Aku langsung memejamkan mataku, dan air mataku mulai turun karena rasa takut yang luar biasa ini, kemudian bayanganku mulai mengarahkan kampaknya ke arah kepalaku. Saat kampaknya sudah akan mengenai kepalaku, tiba–tiba semuanya berubah menjadi putih, Cheryl dan adikku hilang, dan bayanganku itu tidak ada, hanya ada dirikuku berdiri di tempat yang putih tersebut. Tiba–tiba aku mendengar suara Rachel, dia mengucapkan selamat atas keberanian yang aku pilih, dia bilang aku harus mencoba menyanyangi hidupku demi orang yang aku sayangi, hidupku harus dimulai dari awal lagi, saat itu pula aku terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Aku terbangun dan mulai membuka mataku, aku melihat sekelilingku, lengkap sekali, ada orangtuaku, adikku, sahabat–sahabatku, bahkan dosenku pun ada disana tapi sayangnya tidak ada Cheryl disana. Aku bingung ada dimana diriku. Lalu, adikku bilang kalau aku sudah dua minggu tidak sadarkan diri, dan sekarang aku sedang ada dirumah sakit. Saat itu mamaku langsung merangkulku sambil menangis. Aku menceritakan semua pengalamanku saat aku sedang tidak sadarkan diri, tentang Rachel dan semua yang aku alami. Dan ternyata semua yang aku lihat memang benar dan nyata sudah terjadi. Itu adalah pelajaran yang sangat berharga bagiku.


Setelah aku pulang dari rumah sakit, kondisiku sudah agak membaik dibandingkan hari yang sebelumnya. Akupun langsung ke makam Cheryl sahabatku untuk berziarah. Saat aku sampai di sana, aku sangat tercengang, saat aku melihat batu nisan Cheryl, yang aku lihat nama lengkapnya adalah Rachel Cheryl Putri. Ternyata anak perempuan yang akan mengubah hidupku adalah Cheryl. Dan wanita yang mengajakku untuk melihat semua yang pernah terjadi itu ternyata Cheryl. Jadi begini caranya dia untuk mengajarkanku bagaimana hidup. Saat itu, di depan makamnya aku berjanji kepadanya akan memulai hidupku lebih baik dibandingkan sebelumnya. Hari baru telah dimulai, dan inilah arti dari sebuah nama, sebuah misteri.


Salam Black and Blue.

Rabu, 04 November 2015


Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih;
tapi bagaimanapun, berbaik hatilah.

Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu;
tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah.

Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri;
tapi bagaimanapun, berbahagialah.

Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati;
tapi bagaimanapun, jadilah sukses.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam;
tapi bagaimanapun, bangunlah.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang;
tapi bagaimanapun, berbuat baiklah.

Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.

Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu.
Ini bukan urusan antara engkau dan mereka.

(Mother Teresa)

Kamis, 22 Oktober 2015



Pada suatu hari, ada seorang Anak yang sedang berkendara dengan ayahnya. Seperti biasanya mereka berkendaraan menuju ke suatu tempat. Dan si Anak yang mengemudikan mobil. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.

"Bagaimana Ayah? Kita berhenti?", si Anak bertanya.
"Teruslah mengemudi!", kata sang Ayah.

Si Anak tetap menjalankan mobil mengikuti perintah ayahnya. Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun dengan derasnya. Beberapa pohon besar bertumbangan, bahkan ada pohon-pohon kecil yang diterbangkan angin. Suasana nya sangat menakutkan. Banyak kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.

"Ayah...?"
"Teruslah mengemudi, tingkatkan perhatian dan ekstra hati-hati!" kata sang Ayah sambil terus melihat ke depan.

Si Anak tetap mengemudi dgn bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandangan sampai hanya berjarak beberapa meter saja. Anginpun mengguncang?kan mobil kecil itu. Si Anak mulai merasa takut. Tapi dia tetap mengemudi kan mobil sesuai perintah ayahnya walaupun sangat perlahan.


Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, terasa hujan mulai mereda dan angin mulai berkurang. Setelah beberapa killometer lagi, sampailah mereka di tempat yang kering dan mereka melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.

"Silakan kalau mau berhenti sekarang dan keluarlah", kata sang Ayah tiba-tiba.
"Kenapa sekarang?", tanya si Anak terheran-heran.
"Tengoklah kebelakang agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau tadi berhenti di tengah badai dan angin ribut itu".

Si Anak berhenti dan keluar dari mobil, lalu dia menengok jauh ke belakang, di sana sana badai masih berlangsung. Si Anak lalu membayangkan bila mereka berhenti dan terjebak, segera dia pun berdoa untuk mereka yang masih terjebak di sana, semoga mereka selamat.
 
Dan di sinilah si Anak mengerti dan menyadari bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam suatu ketidakpastian dan ketakutan yang sangat, karena kita tak akan tahu kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya, lebih baik segera jauhi badai itu sebisa mungkin.
  
Ibarat nya jika kita sedang menghadapi "badai" kehidupan, maka teruslah berjalan, teruslah berusaha. jangan pernah berhenti, jangan pernah putus asa karena bila tidak maka kita akan tenggelam dlm keadaan yang terus kacau, menakutkan dan penuh ketidak-pastian, bagaikan anda berada ditengah-tengah badai yang sesungguhnya.


Salam Black and Blue

Senin, 19 Oktober 2015


Seorang anak perempuan berkata pada Ibunya bahwa yang dihadapinya semua tidak baik. Dia gagal di ujian matematika, kekasihnya pergi begitu saja, direbut oleh sahabatnya.

Menghadapi kesedihan itu, seorang Ibu yang baik tahu untuk mengembalikan semangat anak perempuannya.
“Ibu membuat kue yang lezat,” katanya sambil memeluk anaknya dan mengajak ke dapur, berharap melihat kembali senyum buah hatinya.

Ketika Ibunya mempersiapkan bahan-bahan pembuat kue, anaknya duduk di seberang dan memperhatikan dengan seksama.
Ibunya bertanya, “Sayang, kamu mau mama buatkan kue?”
Anaknya menjawab, “Tentu ma. Mama tahu aku suka sekali kue.”
“Baiklah...” kata Ibunya, “Ini, minumlah minyak wijen.”
Dengan terkejut anaknya menjawab, “Apa?! Gak mau!!!”
“Bagaimana kalau kamu makan beberapa telur mentah?”
Terhadap pertanyaan ini anaknya menjawab, “Mama bercanda ya?
“Bagaimana kalau mencoba segenggam tepung?”
“Gaklah ma, aku bisa sakit perut.”

Kemudian Ibunya melanjutkan, “Bahan-bahan ini belum dimasak dan rasanya tidak enak, tapi kalau kamu sudah mencampur dan mengolahnya bersama-sama. Ini semua akan menjadi sebuah kue yang lezat!”

  
Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Saat kita bertanya mengapa DIA membiarkan kita melewati masa-masa sulit, kita tidak menyadari berkat-berkat apa yang tengah DIA siapkan untuk kita. Hanya DIA yang tahu dan DIA tidak pernah membiarkan kita jatuh. Kita tidak perlu berkutat pada bahan-bahan mentah yang ada, hanya percayalah padaNYA. Dan kita akan melihat sesuatu yang luar biasa terjadi!

TUHAN begitu mengasihi kita.
DIA mengirimkan bunga-bunga cantik di setiap musim semi tiba.
DIA membuat matahari terbit setiap pagi.
Dan tiap saat kita ingin berdoa. DIA selalu ada untuk mendengar!
DIA bisa tinggal di mana saja di alam semesta ini. Tetapi, DIA memilih untuk tinggal di hatimu!


Selamat Menikmati "Kue" yang Indah!


Salam Black dan Blue

Artikel Populer

Tags

Main of Articles