Jumat, 15 Agustus 2014

 Agustus 15, 2014      


Sesuatu yang diakhiri, harusnya ya sudah diakhiri aja. Kalo masih ada embel-embelnya, berarti memang masih ada sesuatu. Entah itu masih ada permintaan maaf, masih ada alasan, atau masih ada permintaan lain yang pastinya, semuanya nggak masuk diakal dan terkesan diada-ada.


Mungkin diada-ada karena perasaan yang masih ada.


Misalnya pada saat putus. Biasanya, putus yang benar-benar tuntas, akan berhenti di kata putus, diterima keputusannya, sepakat, sudah. Kalo masih ada kalimat-kalimat yang menyusul, kemungkinan besar ada sesuatu yang lain selain dari sekadar menyudahi hubungan.


Dan itu biasanya berimbas pada sulitnya melupakan.


Saking seringnya kata-kata itu dipakai, akhirnya membuat kita semua jenuh, jengah, dan merasa itu semua basi. Ini dia kata-kata basi itu.



1.     Kamu Terlalu Baik Buat Aku

Kalo yang ini sih semuanya pasti udah tau ya. These words are full of sh*t.



2.     Kamu Pasti Dapet yang Lebih Baik dari Aku

Kalimat seperti cuma pantas dibalas dengan satu kalimat, “Yeah, of course I will!”

Itu bagi orang normal. Namun pada kenyataannya, tetap saja banyak yang berhasil dibuat lemah dengan kalimat itu, dan akhirnya membuat urusan semakin panjang dengan mengucapakan, “Emang banyak yang lebih baik dari kamu, tapi aku maunya cuma kamu”.


Urusan semakin panjang karena si dia memang udah nggak mau sama kamu. Alhasil, kamu ditinggal move on duluan. Dan hingga kini, kamu masih di situ-situ aja, menanti dia yang nggak baik-baik amat itu.



3.     Aku Nggak Pantes Buat Kamu
Kalimat inilah yang paling sering digunakan juara sandiwara sedunia. Playing victim, atau bermain sebagai korban adalah hobinya.


Dia membuat seolah-olah dialah yang salah, seolah-olah dia yang jadi korban, seolah-olah kalian berpisah bukan karena kamu membosankan. Padahal pada kenyataannya, ada dia yang lain yang lebih menyenangkan.



4.    Tapi Kita Masih Bisa Jadi Temen Kan?

Kalimat ini (dan jika jawabannya “ya”) hanya berlaku pada malam ketika putus saja. Besoknya, lusa, seminggu kemudian, setahun, seumur hidup berikutnya, ketika ketemu malah seperti nggak pernah kenal.



5.     Aku Nggak Mau Kamu Makin Sakit Karena Aku

Dia tau, dia sadar selama ini dia menyebabkan kesakitan pada diri kamu. Dia memutuskan pergi, benar. Tapi dengan berbicara seperti ini, dia cuma menambah kesakitan sebelum dihadirkannya puncak rasa sakit, yaitu benar-benar ditinggal pergi.


Seharusnya kalo selama ini dia menyebabkan sakit, berubahlah menjadi yang membawa kebahagiaan.



6.    Ini Bukan Kamu, Ini Salah Aku

Dia meyakinkan kamu bahwa ini salahnya, supaya kamu tenang dan mau melepasnya… sehingga ia pun bisa tenang lepas darimu untuk mengejar yang lainnya.



7.    Nggak Akan Ada Akhir yang Bahagia Untuk Kita

Ini basi. Tapi ini benar, senggaknya bagi mereka yang pernah menjalani cinta yang sama-sama sudah tau endingnya akan seperti apa, yang meski mereka perjuangkan setengah mati pun sudah diketahui akhirnya berpisah juga, yang semakin diperjuangkan akhirnya semakin menyakitkan.



-----



Begitulah kata-kata basi yang sering dilontarkan ketika putus. Sebagian mungkin diucapkan dengan jujur, tapi hanya sebagian kecil. Kecil sekali.


Namun kita berhak tau, apa alasan sebenarnya dan mengapa harus ditutupi?
Sebagian besarnya hanya untuk menutupi dua alasan ini:


“Bosan” dan “Aku menemukan yang lebih baik.”


Sakit memang kalo diungkapin alasan yang sebenarnya tapi lebih sakit lagi kalo pada akhirnya tau kamu ungkapin bukan alasan yang sebenarnya.


Selain alasan tadi ada juga sih alasan lain yang memang karna suatu masalah yang besar seperti berantem karena hal ini dan itu, gak dibolehin atau ketahuan sama orang tua, atau merasa kayak “ditipu” aka dibohongin aka di-php-in pacar, de-el-el, dan mungkin diantara kamu atau pasangan kamu udah menganggap “ah, jangan dikasih tau masalah yang sebenarnya, terlalu sakit.” Gitu.


-----


Kalo kamu punya alasan lain yang mau ditambahin atau cerita yang ingin dicurahkan, silakan isi di kolom comment ya.



Salam Black and Blue. 

Artikel Populer

Tags

Main of Articles