Sesuatu yang diakhiri, harusnya
ya sudah diakhiri aja. Kalo masih ada embel-embelnya, berarti memang masih ada
sesuatu. Entah itu masih ada permintaan maaf, masih ada alasan, atau masih ada
permintaan lain yang pastinya, semuanya nggak masuk diakal dan terkesan
diada-ada.
Mungkin diada-ada karena
perasaan yang masih ada.
Misalnya pada saat putus.
Biasanya, putus yang benar-benar tuntas, akan berhenti di kata putus, diterima
keputusannya, sepakat, sudah. Kalo masih ada kalimat-kalimat yang menyusul,
kemungkinan besar ada sesuatu yang lain selain dari sekadar menyudahi hubungan.
Dan itu biasanya berimbas pada
sulitnya melupakan.
Saking seringnya kata-kata itu
dipakai, akhirnya membuat kita semua jenuh, jengah, dan merasa itu semua basi.
Ini dia kata-kata basi itu.
1. Kamu Terlalu Baik Buat Aku
Kalo yang ini sih semuanya
pasti udah tau ya. These words are full of sh*t.
2. Kamu Pasti Dapet yang Lebih Baik dari Aku
Kalimat seperti cuma pantas
dibalas dengan satu kalimat, “Yeah, of course I will!”
Itu bagi orang normal. Namun
pada kenyataannya, tetap saja banyak yang berhasil dibuat lemah dengan kalimat
itu, dan akhirnya membuat urusan semakin panjang dengan mengucapakan, “Emang
banyak yang lebih baik dari kamu, tapi aku maunya cuma kamu”.
Urusan semakin panjang karena
si dia memang udah nggak mau sama kamu. Alhasil, kamu ditinggal move on duluan.
Dan hingga kini, kamu masih di situ-situ aja, menanti dia yang nggak baik-baik
amat itu.
3. Aku Nggak Pantes Buat Kamu
Kalimat inilah yang paling
sering digunakan juara sandiwara sedunia. Playing victim, atau bermain sebagai
korban adalah hobinya.
Dia membuat seolah-olah dialah
yang salah, seolah-olah dia yang jadi korban, seolah-olah kalian berpisah bukan
karena kamu membosankan. Padahal pada kenyataannya, ada dia yang lain yang
lebih menyenangkan.
4. Tapi Kita Masih Bisa Jadi Temen Kan?
Kalimat ini (dan jika
jawabannya “ya”) hanya berlaku pada malam ketika putus saja. Besoknya, lusa,
seminggu kemudian, setahun, seumur hidup berikutnya, ketika ketemu malah
seperti nggak pernah kenal.
5. Aku Nggak Mau Kamu Makin Sakit Karena Aku
Dia tau, dia sadar selama ini
dia menyebabkan kesakitan pada diri kamu. Dia memutuskan pergi, benar. Tapi
dengan berbicara seperti ini, dia cuma menambah kesakitan sebelum dihadirkannya
puncak rasa sakit, yaitu benar-benar ditinggal pergi.
Seharusnya kalo selama ini dia
menyebabkan sakit, berubahlah menjadi yang membawa kebahagiaan.
6. Ini Bukan Kamu, Ini Salah Aku
Dia meyakinkan kamu bahwa ini
salahnya, supaya kamu tenang dan mau melepasnya… sehingga ia pun bisa tenang
lepas darimu untuk mengejar yang lainnya.
7. Nggak Akan Ada Akhir yang Bahagia Untuk
Kita
Ini basi. Tapi ini benar,
senggaknya bagi mereka yang pernah menjalani cinta yang sama-sama sudah tau
endingnya akan seperti apa, yang meski mereka perjuangkan setengah mati pun
sudah diketahui akhirnya berpisah juga, yang semakin diperjuangkan akhirnya
semakin menyakitkan.
-----
Begitulah kata-kata basi yang
sering dilontarkan ketika putus. Sebagian mungkin diucapkan dengan jujur, tapi
hanya sebagian kecil. Kecil sekali.
Namun kita berhak tau, apa
alasan sebenarnya dan mengapa harus ditutupi?
Sebagian besarnya hanya untuk menutupi dua alasan ini:
“Bosan” dan “Aku menemukan yang lebih baik.”
Sakit memang kalo diungkapin
alasan yang sebenarnya tapi lebih sakit lagi kalo pada akhirnya tau kamu
ungkapin bukan alasan yang sebenarnya.
Selain alasan tadi ada juga
sih alasan lain yang memang karna suatu masalah yang besar seperti berantem
karena hal ini dan itu, gak dibolehin atau ketahuan sama orang tua, atau merasa
kayak “ditipu” aka dibohongin aka di-php-in pacar, de-el-el, dan mungkin
diantara kamu atau pasangan kamu udah menganggap “ah, jangan dikasih tau
masalah yang sebenarnya, terlalu sakit.” Gitu.
-----
Kalo kamu punya alasan lain
yang mau ditambahin atau cerita yang ingin dicurahkan, silakan isi di kolom
comment ya.
Salam Black and
Blue.