Minggu, 30 November 2014



Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin.


Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin. Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.


"Bagaimana perjalanan kali ini?"
"Wah, sangat luar biasa Ayah"
"Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin" kata ayahnya.
"Oh iya" kata anaknya
"Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?" tanya ayahnya.


Kemudian si anak menjawab....



"Saya saksikan bahwa:
 
Kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.
 
Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.
 
Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.
 
Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.
 
Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.
 
Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.
 
Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.
 
Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi".



Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.

Kemudian sang anak menambahkan "Terima kasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita."


Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya.



Salam Black and Blue.

Jumat, 28 November 2014


Yang Terbaik

Dari kecil hingga sekarang hidupku selalu di iringi dengan mulut berbisa. Aku selalu merasakan depresi dalam menjalani hidup ini. Seperti tidak ada harapan untuk menyambut masa depan yang indah. Di kepalaku hanya masa depan yang suram saja. Setiap aku berangkat sekolah di perjalanan aku selalu diejek dan dicaci-maki oleh pelajar dari sekolah lain bahkan orang dewasa, maupun anak kecil juga seperti itu.


Di siang hari ketika aku pulang sekolah aku bertemu dengan tiga anak perempuan yang se–umuran dengan ku, ketika mereka melihatku mereka tertawa kecil. Di dalam hatiku berkata “sepertinya puas sekali yaa… Men-tertawakan orang lain karena keburukan fisiknya sedangkan mereka tidak mau jika di tertawakan seperti itu”, lalu aku secepatnya pergi dan menuju ke rumah.


Aku berfikir mengapa hidupku ini tidak seindah hidup orang lain, “Mungkin aku tidak di takdirkan untuk mendapatkan kehidupan yang indah dan bahagia”.


Suatu ketika aku melihat seorang anak tanpa kaki kanannya, aku lalu mendekatinya dan bertanya kepadanya.

 “Hai kau sedang apa?”
 “Aku ingin pergi ke toko untuk membeli beras”.
 “Tapi kenapa kau tidak meminta tolong pada orang lain saja atau biar ibumu yang membelinya?”
 “Ibuku sedang sakit, keluarga yang ada tinggal aku dan ibuku, dan aku kan masih punya kaki yang satunya jadi buat apa kita menyerah dan jangan merasa bahwa hidup kita tidak se-indah hidup orang lain lebih baik kita syukuri saja apa yang Tuhan sudah berikan walau banyak orang yang mengejek ku, aku menganggap itu hanyalah cobaan dari Tuhan untuk kita meraih keberhasilan”.



Aku terdiam dan berfikir “Bahwa ucapan anak itu benar juga sementara aku yang lebih normal dari anak itu sudah menyerah dalam menjalani hidup ini”.


Setelah kejadian itu aku lalu mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga dalam hidup ini dan termotivasi untuk bangkit dan menjadi Yang Terbaik untuk hidup ku dan orang lain dan menganggap mulut berbisa itu hanyalah cobaan untuk meraih keberhasilan dalam hidup ini.



Salam Black and Blue.

Rabu, 26 November 2014



Ada sebuah cerita Cina kuno tentang seorang laki-laki tua yang sikapnya dalam memandang kehidupan berbeda sama sekali dengan orang-orang lain di desanya.


Rupanya laki-laki tua ini hanya mempunyai seekor kuda, dan pada suatu hari kudanya kabur. Para tetangganya datang dan menaruh belas kasihan kepadanya, mengatakan kepadanya betapa mereka ikut sedih karena kemalangan yang menimpanya.


Jawabannya membuat mereka heran.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.


Beberapa hari kemudian kudanya pulang, dan ikut bersamanya dua ekor kuda liar. Sekarang si laki-laki tua punya tiga ekor kuda. Kali ini, tetangga-tetangganya mengucapkan selamat atas kemujurannya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemujuran?" dia menjawab.


Pada hari berikutnya, sementara sedang berusaha menjinakkan salah seekor kuda liar, anak laki-lakinya jatuh dan kakinya patah.


Sekali lagi, para tetangga datang, kali ini untuk menghibur si laki-laki tua karena kecelakaan yang menimpa anaknya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.


Kali ini, semua tetangganya menarik kesimpulan bahwa pikiran si tua kacau dan tidak ingin lagi berurusan dengannya.


Walaupun demikian, keesokan harinya penguasa perang datang ke desa dan mengambil semua laki-laki yang sehat untuk dibawa ke medan pertempuran. Tetapi anak si laki-laki tua tidak ikut diambil, sebab tubuhnya tidak sehat!


Kita semua akan menghayati kehidupan yang lebih tenang kalau kita tidak terlalu tergesa-gesa memberikan penilaian kepada peristiwa yang tejadi. Bahkan apa yang paling kita benci, dan yang masih menimbulkan reaksi negatif kalau terpikirkan oleh kita, mungkin memainkan peranan positif dalam hidup kita.


Be proactive: perbesar ruang jeda antara stimulus dan respon


Salam Black and Blue.

Minggu, 23 November 2014



Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini retak.


Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.


Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan”. "Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ...ah sebetulnya ia adalah adikku.


Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya”. Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang”. Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.


Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.


Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. "Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku”. kata sang adik pada kakaknya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan.


Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.


"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan”.

Jumat, 21 November 2014


Ku lari ke ruang makan kemudian kronconganku.
Ku lari ke dapur kemudian laparku.
Sepi masak sendiri. Aku mau acar, aku mau dadar.


Bosan aku dengan tomat.
Enyah saja kau lalat.
Seperti ngeronda ku sendiri.


Pecahkan saja bawangnya biar wangi.
Biar mengiris sampai nangis.


Ah.. Ada pucuk ubi seikat tenggelam.
Saringan serbuk teh bekas daun sirih.


Kenapa tak aduk saja, spatulanya.
Atau aku harus lari ke ruang makan belok ke dapur.


@marmutlicious


Kamis, 20 November 2014


Piglet duduk di belakang Pooh.


“Pooh”, bisiknya.
“Ya, Piglet?”
“Tidak apa-apa”, kata Piglet sambil memegang tangan Pooh. “Aku cuma ingin memastikan itu kamu”



Sebuah hubungan persahabatan penting bagi Piglet. Dia memastikan keberadaan Pooh untuk membuatnya merasa aman dan tentram.


Seorang sahabat kadang hanya membutuhkan kehadiran Anda untuk membuatnya merasa aman, tentram dan bahagia. Dengan duduk bersama, berbincang ringan, dan tertawa bersama hal itu sudah menjadi berkat yang sangat besar bagi seorang sahabat.


Namun ditengah kesibukan hidup saat ini, seringkali banyak orang telah melupakan untuk meluangkan waktu bagi teman dan sahabatnya bahkan bagi keluarganya. Di sudut-sudut ruangan hati sahabat Anda, dia berseru betapa rindunya ia akan waktu-waktu bersama seperti yang pernah Anda luangkan bersamanya dulu.


Waktu adalah investasi yang tidak ternilai harganya. Seorang yang sukses menginvestasikan waktunya pada hal-hal terpenting bagi hidupnya. Apakah ada yang lebih penting dari sahabat, teman dan keluarga Anda?


Sebuah kata-kata bijak berkata, “Tidak seorangpun pada akhir hidupnya berkata bahwa dia menyesali karena kurang menghabiskan waktu lebih banyak di kantornya, namun mereka menyesal karena kurang memberi waktu bagi orang-orang yang dikasihinya”.


Jika Anda saat ini sedang sibuk, berhentilah sejenak. Sapa rekan Anda, atau sahabat Anda yang sudah lama sekali Anda tidak hubungi atau temui. Tanyakan kabarnya, dan sampaikan kata-kata penguatan padanya. Mungkin saja, dengan melakukan ini Anda telah menyelamatkan hidup seseorang.


(Sumber: 7 Habits of highly Effective Teens, Sean Covey)



Salam Black and Blue.

Jumat, 07 November 2014



Sepasang suami-istri yang sudah dikaruniai,seorang anak berumur 1 tahun hidup dengan bahagia. Mereka memelihara seekor anjing yang begitu setia.


Sejak dari pacaran sampai sudah dikaruniai anak, anjing ini telah menjadi bagian dalam hidup mereka. Sebagai teman bermain, penjaga sekaligus pelindung keluarga. Merekapun sangat menyayangi dan mempercayai anjing ini.


Suatu saat kedua suami istri ini keluar rumah dan maninggalkan anak mereka bersama anjing peliharaannya. Namun mereka lupa memberi makan anjing tersebut.


Saat mereka pulang, dikejutkan dgn tetesan-tetesan darah yang berserahkan dilantai. Kaget, takut, khawatir bercampur aduk dalam benak mereka langsung berlari menuju kamar.


Di depan pintu kamar, duduk anjing peliharaan itu dengan mulut yang masih meneteskan darah segar. Histeris, kedua suami-istri berteriak. Si istri terduduk lemas dengan isak tangis, sedangkan sang suami langsung mengambil kursi yang ada diruangan, dan menghantamkanya bertubi-tubi kekepala anjing tersebut. Si anjing seolah pasrah menerima nasibnya tanpa berusaha menghindar... dan akhirnya mati.


Dengan perasaan hancur dan tangis yang semakin menjadi, kedua suami istri itu pun berpelukan. Dalam hati mereka tidak menyangka telah kehilangan sang buah hati dan anjing peliharaan bersamaan. Dengan langkah lunglai, keduanya memasuki kamar.


Dan betapa kagetnya mereka saat melihat anak mereka tertidur pulas diatas ranjang, sedangkan disamping ranjang tergeletak seekor ular yang sudah mati berlumuran darah.


Mereka baru sadar ternyata... anjing peliharaan itu telah melindungi anak mereka dari ancaman si ular. Mereka sangat menyesali perbuatannya tetapi apa mau dikata semua sudah terlambat.


Ingatlah janganlah ceroboh dalam bertindak karena penyesalan selalu datang terakhir dan biasanya datang terlambat dan semua sudah berakhir.



Salam Black and Blue.

Kamis, 06 November 2014



Pada suatu hari seorang wanita tua berjalan menyusuri bukit. Tak sengaja, matanya tertuju pada sebuah batu mengkilat yang berada di sela-sela batu besar. Batu itu kurang lebih sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dengan berbagai usaha, diraih dan dipegangnya batu gemerlap itu.


Pada saat itu pula, lewat seorang pria muda yang sedang mencari kayu bakar. Tampak sekali dari pakainnya, bahwa lelaki itu adalah orang miskin. Lelaki itu melihat batu mengkilat yang dipegang oleh nenek tua, dan terperanjatlah dia ketika melihat sebuah berlian sebesar itu.




“Apa itu nek?” lelaki itu bertanya. “Bolehkah aku memintanya?”
 
“Baiklah” jawab nenek itu seraya memberikan batu itu kepada sang lelaki tanpa beban sama sekali.



Setengah tidak percaya, lelaki itu segera menerima dan membawa pulang berlian besar itu. Sesampainya di rumahnya yang mulai reyot, lelaki itu mulai merancang berbagai strategi untuk memanfaatkan berlian besar tersebut agar dapat membuatnya kaya.. tanpa kehilangan batu itu sama sekali.


Besoknya, si lelaki memutuskan untuk menggadaikan berlian miliknya. Uang hasil gadai berlian itu ternyata cukup besar, dan uang itulah yang ia gunakan sebagai modal usaha. Tahun demi tahun dilalui, dan akhirnya lelaki itu tumbuh berkembang menjadi seorang pengusaha yang kaya-raya. Berlian yang dulu digadai itupun sudah dapat ditebusnya kembali.


Tapi entah kenapa, perlahan namun pasti mulai ada perubahan di diri lelaki itu. Ia mulai congkak, suka pamer, dan mulai melarutkan dirinya dalam kehidupan malam yang sangat menjijikkan. Lambat laun, teman-temannya mulai menjauh. Yang ada sekarang hanyalah orang-orang yang mau memanfaatkan dirinya.


Berbagai persaingan dan minimnya dukungan dari orang-orang terdekatnya, akhirnya membuat usaha lelaki itupun jatuh. Ia sekarang tidak mempunyai apa-apa lagi. Bahkan semua orang sudah meninggalkannya. Tetapi, ternyata tidak semua hartanya habis, ia masih memiliki batu berlian besar pemberian seorang nenek yang ia temui beberapa tahun lalu. Entah mengapa, ia mulai merasa menyesal kenapa ia harus meminta berlian tersebut dari nenek tua itu.


Akhirnya, dengan berbagai upaya, ia berusaha mencari kembali nenek tersebut. Setelah berhari-hari mencari, akhirnya lelaki itu menemukan rumah sang nenek, yaitu sebuah gubuk kecil di perbukitan.


Sambil sujud tersungkur di hadapan sang nenek tua, laki-laki itu mengembalikan berliannya.




“Kenapa engkau dulu memberikan batu permata ini kepadaku?” kata lelaki itu sambil menangis, “Seharusnya, engkau memberikan sesuatu yang lebih berharga dari ini, yaitu kekuatan untuk memberi batu ini”.
  
Sambil tersenyum, nenek itu menjawab, “Aku sedang mengajarkannya padamu”.



Salam Black and Blue.

Minggu, 02 November 2014



Dari jendela ke jendela mereka meminta uang. Mereka tak ragu untuk langsung mengatakan, “om minta uang om”. Dari mana mereka dan akan ke mana mereka, mungkin tak pernah dipusingi oleh orang-orang dibalik jendela-jendela itu.


Ada yang membuka jendelanya dan menyodorkan uang. Celah jendela yang terbuka pun lebarnya hanya cukup untuk memindahkan uang dari dalam ke luar. Berapa banyak dari kita yang sering menemui mereka yang adalah anak-anak pada masa usia sekolah ini? Mereka bisa kita temui hampir di setiap lampu lalu lintas, bahkan mereka bisa muncul di depan pagar rumah anda.


Banyak dari mereka yang tidur di jembatan penyeberangan, di pinggir jalan, dan di tempat-tempat lainnya yang tidak mengganggu orang lain namun menghiasi pemandangan mata Anda.


Ada satu kisah tentang mereka. Suatu hari, salah satu dari mereka menghampiri mobil yang dikendarai oleh seorang pemuda berdasi. Seperti biasa, anak itu segera memainkan alat musik sekadarnya yang dibuat dari botol plastik diisi dengan pasir.


Baru satu baris dia melantunkan lagu, si pemuda berkata, “Dik, sudah, tidak perlu bernyanyi lagi, saya sedang pusing siang ini”. Lalu pemuda itu melanjutkan, “Mungkin adik bisa menjawab saya, menurut adik apa yang dicari oleh orang seperti saya ini?” “Teman bermain”, jawabnya sederhana. Si pemuda diam sejenak sambil memperhatikan lampu lalu-lintas yang segera berubah menjadi hijau. Dia menjadi kikuk dan tidak memperhatikan adik kecil itu lagi. Anak itu pun pergi karena mobil-mobil akan segera melaju.


“Teman bermain”, si pemuda berbisik sendiri di dalam mobil. Lama dia merenung hingga dia terhenti oleh lampu lalu lintas lagi. Kali ini dia memperhatikan anak-anak lalu-lintas itu riang bermain dan bercengkerama bersama. Mereka tampaknya tidak beranjak mencari uang dari balik jendela mobil-mobil kali ini. Pemandangan itu menyentuh hati si pemuda.


“Ah di mana teman-temanku” Melihat mereka hanya melalui dunia internet. Kotak pesanku tidak pernah kuperhatikan. Pesan yang ada juga hampir tidak pernah kubalas. Walau hari demi hari aku ditemani oleh para pebisnis, namun yang kami mainkan berujung pada keuntungan dan bagaimana memanfaatkan peluang ekonomi yang ada. Kami masing-masing tidak peduli apa yang dirindukan oleh hati untuk mencurahkan kasih yang telah ada sejak semula?.


Lihat mereka, tidak tau bagaimana dinamisnya gejolak ekonomi namun bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Mencurahkan kesenangan dan kesusahan bersama. Membagi keuntungan yang ada. Walau dunia ini bisa merapuhkan kejujuran dan kepolosan mereka, namun keriangan mereka bersama tidak bisa direnggut. Walau dunia ini merenggut hak-hak mereka, namun mereka bisa menyarankan bahwa Anda butuh teman bermain.





Salam Black and Blue.

Artikel Populer

Tags

Main of Articles