Yang Terbaik
Dari
kecil hingga sekarang hidupku selalu di iringi dengan mulut berbisa. Aku selalu
merasakan depresi dalam menjalani hidup ini. Seperti tidak ada harapan untuk
menyambut masa depan yang indah. Di kepalaku hanya masa depan yang suram saja.
Setiap aku berangkat sekolah di perjalanan aku selalu diejek dan dicaci-maki
oleh pelajar dari sekolah lain bahkan orang dewasa, maupun anak kecil juga
seperti itu.
Di
siang hari ketika aku pulang sekolah aku bertemu dengan tiga anak perempuan
yang se–umuran dengan ku, ketika mereka melihatku mereka tertawa kecil. Di
dalam hatiku berkata “sepertinya puas sekali yaa… Men-tertawakan orang lain
karena keburukan fisiknya sedangkan mereka tidak mau jika di tertawakan seperti
itu”, lalu aku secepatnya pergi dan menuju ke rumah.
Aku
berfikir mengapa hidupku ini tidak seindah hidup orang lain, “Mungkin aku tidak
di takdirkan untuk mendapatkan kehidupan yang indah dan bahagia”.
Suatu
ketika aku melihat seorang anak tanpa kaki kanannya, aku lalu mendekatinya dan
bertanya kepadanya.
“Hai kau sedang apa?”
“Aku ingin pergi ke toko untuk membeli beras”.
“Tapi kenapa kau tidak meminta tolong pada orang lain saja atau biar ibumu yang membelinya?”
“Ibuku sedang sakit, keluarga yang ada tinggal aku dan ibuku, dan aku kan masih punya kaki yang satunya jadi buat apa kita menyerah dan jangan merasa bahwa hidup kita tidak se-indah hidup orang lain lebih baik kita syukuri saja apa yang Tuhan sudah berikan walau banyak orang yang mengejek ku, aku menganggap itu hanyalah cobaan dari Tuhan untuk kita meraih keberhasilan”.
Aku
terdiam dan berfikir “Bahwa ucapan anak itu benar juga sementara aku yang lebih
normal dari anak itu sudah menyerah dalam menjalani hidup ini”.
Setelah
kejadian itu aku lalu mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga dalam hidup
ini dan termotivasi untuk bangkit dan menjadi Yang Terbaik untuk hidup ku dan
orang lain dan menganggap mulut berbisa itu hanyalah cobaan untuk meraih
keberhasilan dalam hidup ini.
Salam Black and Blue.