Seorang
sahabat pernah menuturkan sebuah kisah menarik mengenai kehidupan seorang
tukang sampah dan gerobaknya di sebuah kota mega metropolitan. Dikisahkan bahwa
di sebuah gang buntu di sebuah komplek perumahan mewah, hiduplah seorang tukang
sampah yang bertugas mengumpulkan sampah-sampah warga gang kecil dan buntu
tersebut. Awalnya, semua warga senang dengan kehadiran tukang sampah tersebut.
Selain ramah, tukang sampah tersebut juga tidak pernah meninggalkan tempat
sampah warga dalam keadaan berantakan. Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh
walaupun, menurut laporan warga sekitar, ia sering menerima gaji dari ketua
rukun tetangga (RT) tidak sesuai dengan perjanjian awal, baik menyangkut jumlah
gaji ataupun mengenai waktu pemberian.
Namun,
setelah jumlah warga bertambah banyak dan tentunya berpengaruh terhadap sampah
yang ada di sekitar warga tersebut, permasalahan pun bermunculan. Kehadiran
tukang sampah menimpulkan pro dan kontra.
Kaum
Bapak melakukan protes terhadap ketua RT. Mereka mengeluhkan kedatangan tukang
sampah pada pagi hari di saat mereka sedang bersiap-siap pergi ke kantor. Bau
busuk dan pemandangan tak mengenakkan mata ketika akan berangkat kerja, menurut
keluhan kaum Bapak, sering mengurangi semangat kerja mereka. Mereka meminta
agar tukang sampah tersebut diberhentikan.
Dengan
tenang ketua RT menjawab, “Tidak mungkin kita memberhentikan tukang sampah itu.
Siapa yang akan memungut sampah di lingkungan ini. Toh, bapak-bapak semua tidak
mempunyai waktu untuk bergotong royong setiap minggu akibat aktivitas
masing-masing! Kita cari solusi yang lain saja. Jangan memecat tukang sampah
tersebut!”
Setelah
berpikir lama, akhirnya Bapak-bapak memaklumi kehadiran tukang sampah tersebut.
Namun, mereka tetap memikirkan agar kehadiran tukang sampah tersebut tidak di
waktu mereka berangkat kerja. Walhasil, diputuskanlah, kehadiran tukang sampah
tersebut dipindah di siang hari agar kaum Bapak semangat menjalani aktivitasnya
masing-masing.
Terbukti!
Bapak-bapak yang tinggal di lingkungan tersebut bekerja dengan baik. Tidak ada
lagi keluhan dalam beberapa hari setelah perbincangan dengan ketua RT.
Namun,
tidak demikian dengan Ibu-ibu komplek. Setelah saling mengetahui keluhan
bersama, salah seorang ibu komplek mendatangi ketua RT sebagai perwakilan. Kaum
Ibu terganggu akibat kehadiran tukang sampah tersebut. Bau busuk dan
pemandangan kotor dari gerobak sampah mengganggu aktivitas gosip para ibu.
Mereka meminta agar waktu kedatangan si tukang sampah diubah menjadi sore hari
… dan ketua RT pun menyetujuinya.
Selang
beberapa hari setelah pergantian waktu tugas tukang sampah, anak-anak komplek
perumahan tersebut mengeluh kepada ibu bapaknya. Mereka terganggu ketika
bermain bola di jalan akibat gerobak sampah. Hanya bermain bola di jalan yang
bisa mereka lakukan mengingat tidak ada lapangan, dan permainan ini harus
diganggu oleh aktivitas tukang sampah dan gerobaknya. Keluhan tersebut kembali
disampaikan kepada ketua RT.
Setelah
merundingkan dengan semua warga beserta kepentingan masing-masing, ketua RT
akhirnya menyuruh tukang sampah tersebut untuk mengambil sampah pada malam hari
ketika seluruh warga tertidur. Ini untuk kemaslahatan seluruh warga. Dan,
dengan senyuman tukang sampah tersebut pun menyetujuinya.
Seluruh
warga akhirnya dapat menjalani aktivitas masing-masing dengan nyaman. Tidak ada
sampah di jalanan. Begitu juga dengan bau sampah yang biasanya tercium dari
radius beberapa meter.
Hingga
suatu pagi nan cerah, warga mencium bau sampah kembali. Terlihat di ujung gang,
gerobak sampah terletak begitu saja. Warga mendekati gerobak tersebut ingin
mengetahui apa yang telah terjadi. Terlihat, tukang sampah tersebut terkulai
berdarah akibat dipukuli pemuda komplek yang bermain gitar di malam hari.
Salam Black and Blue.