Kamis, 05 Februari 2015

 Februari 05, 2015      


Seorang sahabat pernah menuturkan sebuah kisah menarik mengenai kehidupan seorang tukang sampah dan gerobaknya di sebuah kota mega metropolitan. Dikisahkan bahwa di sebuah gang buntu di sebuah komplek perumahan mewah, hiduplah seorang tukang sampah yang bertugas mengumpulkan sampah-sampah warga gang kecil dan buntu tersebut. Awalnya, semua warga senang dengan kehadiran tukang sampah tersebut. Selain ramah, tukang sampah tersebut juga tidak pernah meninggalkan tempat sampah warga dalam keadaan berantakan. Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh walaupun, menurut laporan warga sekitar, ia sering menerima gaji dari ketua rukun tetangga (RT) tidak sesuai dengan perjanjian awal, baik menyangkut jumlah gaji ataupun mengenai waktu pemberian.


Namun, setelah jumlah warga bertambah banyak dan tentunya berpengaruh terhadap sampah yang ada di sekitar warga tersebut, permasalahan pun bermunculan. Kehadiran tukang sampah menimpulkan pro dan kontra.


Kaum Bapak melakukan protes terhadap ketua RT. Mereka mengeluhkan kedatangan tukang sampah pada pagi hari di saat mereka sedang bersiap-siap pergi ke kantor. Bau busuk dan pemandangan tak mengenakkan mata ketika akan berangkat kerja, menurut keluhan kaum Bapak, sering mengurangi semangat kerja mereka. Mereka meminta agar tukang sampah tersebut diberhentikan.


Dengan tenang ketua RT menjawab, “Tidak mungkin kita memberhentikan tukang sampah itu. Siapa yang akan memungut sampah di lingkungan ini. Toh, bapak-bapak semua tidak mempunyai waktu untuk bergotong royong setiap minggu akibat aktivitas masing-masing! Kita cari solusi yang lain saja. Jangan memecat tukang sampah tersebut!”


Setelah berpikir lama, akhirnya Bapak-bapak memaklumi kehadiran tukang sampah tersebut. Namun, mereka tetap memikirkan agar kehadiran tukang sampah tersebut tidak di waktu mereka berangkat kerja. Walhasil, diputuskanlah, kehadiran tukang sampah tersebut dipindah di siang hari agar kaum Bapak semangat menjalani aktivitasnya masing-masing.


Terbukti! Bapak-bapak yang tinggal di lingkungan tersebut bekerja dengan baik. Tidak ada lagi keluhan dalam beberapa hari setelah perbincangan dengan ketua RT.


Namun, tidak demikian dengan Ibu-ibu komplek. Setelah saling mengetahui keluhan bersama, salah seorang ibu komplek mendatangi ketua RT sebagai perwakilan. Kaum Ibu terganggu akibat kehadiran tukang sampah tersebut. Bau busuk dan pemandangan kotor dari gerobak sampah mengganggu aktivitas gosip para ibu. Mereka meminta agar waktu kedatangan si tukang sampah diubah menjadi sore hari … dan ketua RT pun menyetujuinya.


Selang beberapa hari setelah pergantian waktu tugas tukang sampah, anak-anak komplek perumahan tersebut mengeluh kepada ibu bapaknya. Mereka terganggu ketika bermain bola di jalan akibat gerobak sampah. Hanya bermain bola di jalan yang bisa mereka lakukan mengingat tidak ada lapangan, dan permainan ini harus diganggu oleh aktivitas tukang sampah dan gerobaknya. Keluhan tersebut kembali disampaikan kepada ketua RT.


Setelah merundingkan dengan semua warga beserta kepentingan masing-masing, ketua RT akhirnya menyuruh tukang sampah tersebut untuk mengambil sampah pada malam hari ketika seluruh warga tertidur. Ini untuk kemaslahatan seluruh warga. Dan, dengan senyuman tukang sampah tersebut pun menyetujuinya.


Seluruh warga akhirnya dapat menjalani aktivitas masing-masing dengan nyaman. Tidak ada sampah di jalanan. Begitu juga dengan bau sampah yang biasanya tercium dari radius beberapa meter.


Hingga suatu pagi nan cerah, warga mencium bau sampah kembali. Terlihat di ujung gang, gerobak sampah terletak begitu saja. Warga mendekati gerobak tersebut ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Terlihat, tukang sampah tersebut terkulai berdarah akibat dipukuli pemuda komplek yang bermain gitar di malam hari.



Salam Black and Blue.

Artikel Populer

Tags

Main of Articles