Senin, 29 Juni 2015


Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki.


Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.


Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.


Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.
"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.


Virginia Satir melanjutkan;

"Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".


Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".


Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya. "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"


Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".



Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.


Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neuro Linguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut REFRAMING, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Minggu, 07 Juni 2015



Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.


Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.


Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat ‘hangat’ tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat. Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat., namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.


Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.


Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata. “Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku.”


Salam Black and Blue.

Senin, 01 Juni 2015


Dulu, beberapa hari yang lalu, aku punya ide, sebuah ide yang ku anggap batu akik brilian. Di dalamnya terdapat sebuah cerita yang ku ciptakan secara spontan. Sebuah cerita yang takkan ada habisnya untuk berkembang biak dikembangkan. Namun pahitnya, aku lupa, lupa untuk menuangkannya. Menuangkan semua yang ada di kepalaku dalam beberapa helai kertas atau menggoresnya pada perangkat lunak.


Aku semakin tak mengerti, kenapa ide tersebut bisa pergi begitu saja sesuka hatimu uwoo disaat aku yakin aku akan mengingatnya dengan pasti untuk beberapa waktu ke depan. Mungkin memang ide itu pergi dengan begitu cepatnya seperti saat ia melintas dalam pikiranku. Lewat begitu saja layaknya aliran air yang deras. Ia takkan pernah kembali, apalagi melawan arus. Walaupun ada dan muncul kembali, itu takkan pernah sama. Takkan pernah. Harusnya aku segera membuat jalur bus way kecil agar ia bermuara ke waduk atau paling tidak, aku menimbanya dengan gayung dan ember sedikit demi sedikit lalu menampungnya dalam sebuah tempayan.


Sudah, sudah kulakukan. Sudah ku timba ide itu dengan nenek gayung dan menuangkannya ke dalam beberapa ember yang cukup besar. Namun, aku terlalu meremehkannya. Tak ku sangka ide yang ku tampung itu berceceran dan tumpah hingga habis saat perjalanan pulang. Tak ada lagi yang akan aku tampung di tempayan ku kelak walaupun masih ada tersisa beberapa tetes di emberku dan beberapa liter di tempayanku sana.


Tertegun sejenak. Berpikir dengan cepat. Berpikir untuk menemukan ide dalam menampung kembali ide yang tersisa. Ku ambil buluh sebatang semua emberku dan ku gabungkan, ku tuangkan semua yang tersisa pada satu ember. Kali ini aku takkan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dan sekarang seumber air sudekat aku harus mencapai tempayanku tanpa kekurangan air di emberku. Walaupun ide yang akan ku tampung tak sesuai lagi ceritanya, tak sebrilian yang pertama, tak seperti yang ku pikirkan tadi, setidaknya ada beberapa alur yang tersisa dan akan ku kembangkan sekuat tenaga dengan ide-ideku yang baru saat aku tiba dengan awan kinton di tempayanku kelak.


Dari ideku ini, aku mendapat pelajaran yang begitu penting. Jangan abaikan sesuatu yang baik saat ia datang menghampirimu. Jangan menganggap remeh hal yang menurutmu mudah dijaga. Sekecil apapun itu, segampang apapun itu, selemah apapun itu, se-tidak keren-nya itu, seperti apapun itu. Harus kamu pegang erat dan simpan segera. Jangan main judi biarkan datang begitu saja tanpa ada tujuan. Jangan menunda sesuatu untuk dikerjakan, jangan tunda, jangan tundaaa, lah jadi nyanyi biarkan pergi begitu saja dengan membawa harapan dan penyesalan. Jangan-jangan kau menolak cintaku, aselole, joss. Jangan berhenti berkreasi dan berinovasi, karna imajinasi tak pernah mengenal aturan dan batas.



Salam Black and Blue.




Artikel Populer

Tags

Main of Articles