Mulanya,
kamu itu hanya sekedar bertanya kepadaku.
Sebuah
pertanyaan yang singkat namun menepis kalbu.
Sesaat
kamu bertanya semua tentang diriku dan aku hanya bisa bergumam di dalam hati.
Satu
pertanyaan yang hingga kini masih membekas.
Pernyataan yang sejenak membuat kuterpatung.
Sebuah pertanyaan tentang perbedaan kita.
Sebuah pertanyaan tentang perbedaan kita.
Jelas ini menimbulkan gejolak
dan perlawanan diri.
Jauh
sebelum itu, jauh sebelum kamu bertanya semua tentang diriku.
Tentang kaum hawa yang mendekat, mencoba mendekap.
Tentang kaum hawa yang mendekat, mencoba mendekap.
Ya, memang benar.
Namun tak satu pun
dari mereka yang mampu berjalan jauh.
Menghampiriku karena sikap dingin tak berpeluh.
Menghampiriku karena sikap dingin tak berpeluh.
Di
saat itu pula ada seorang gadis yang mampu mendekat dan mencoba mendekap hati.
Mencoba mencairkan bekuan diri.
Mencoba menghangatkan dinginnya sikap ini.
Mencoba mencairkan bekuan diri.
Mencoba menghangatkan dinginnya sikap ini.
Awalnya biasa saja.
Seperti tidak ada apa-apa.
Layaknya seorang teman yang sekadar bercanda tawa.
Seperti tidak ada apa-apa.
Layaknya seorang teman yang sekadar bercanda tawa.
Namun
di balik itu semua, tersirat kalimat buta yang merapatkan perasaan kita.
Perasaan
yang hingga kini mampu menenangkan hati.
Melupakan semua jeratan pedih di masa lampau.
Melupakan semua jeratan pedih di masa lampau.
Hari-hari terus berlalu dan kini kita telah bersatu.
Perasaan
bahagia menyelubungi hati.
Alunan senyuman mengitari jiwa ini.
Tetapi,
satu pertanyaan ada di benakku.
Apakah kita mampu bertahan?
Bertahan di
dalam cinta yang begitu banyak perbedaan di antara kita.
Mereka
yang di luar sana memang berkata perbedaan itu indah.
Perbedaan itu menyenangkan, perbedaan itu penuh warna.
Perbedaan itu menyenangkan, perbedaan itu penuh warna.
Namun tak jarang dari mereka yang
berkata perbedaan itu menghancurkan semua.
Perbedaan itu membawa kepedihan, perbedaan itu abu-abu dan tak jarang menjadi hitam.
Perbedaan itu membawa kepedihan, perbedaan itu abu-abu dan tak jarang menjadi hitam.
Sebenarnya
kita telah tahu akhirnya.
Akhir dari segalanya.
Akhir dari kisah ini.
Meski lelah, selalu kucoba untuk jalani kata hati ini.
Akhir dari segalanya.
Akhir dari kisah ini.
Meski lelah, selalu kucoba untuk jalani kata hati ini.
Walau beda menghancurkan, aku akan selalu mencoba buatmu bahagia.
Namun mampukah terus bertahan?
Kalau
sudah begini siapa yang harus disalahkan?
Mungkin salahku yang menancapkan panah cinta
Atau mungkin ini salahmu yang datang dalam hidupku menghiasi hari-hariku?
Atau mungkin ini salahmu yang datang dalam hidupku menghiasi hari-hariku?
Tidak ada yang salah.
Kita tak pernah tahu siapa sebenarnya yang salah di dalam cinta.
Namun satu yang perlu
diketahui.
Cinta takkan pernah salah.
@marmutlicious
Cinta takkan pernah salah.
@marmutlicious